[Fakta atau Hoaks] Benarkah Malaysia Diam-diam Geser Patok Perbatasan saat Indonesia-Cina Memanas?

Rabu, 8 Januari 2020 10:17 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Malaysia Diam-diam Geser Patok Perbatasan saat Indonesia-Cina Memanas?

Narasi bahwa Malaysia diam-diam menggeser patok perbatasan Indonesia hingga 1 kilometer saat Indonesia dan Cina memanas beredar di media sosial. Narasi itu terdapat dalam gambar tangkapan layar sebuah judul artikel yang dimuat pada Sabtu, 4 Januari 2020.

Di bawah gambar tangkapan layar itu, terdapat gambar lain, yakni karakter kartun Tom. Ada pula gambar bendera Malaysia di bagian pojok kiri atas. Dalam gambar itu, tertulis: "Hehe.. Gak sengaja slurr".

Salah satu akun yang membagikan gambar itu adalah akun Facebook Mblo On, tepatnya pada Senin, 6 Januari 2020. Hingga kini, unggahan tersebut telah direspons lebih dari 8 ribu kali, dikomentari lebih dari seribu kali, dan dibagikan lebih dari 500 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Mblo On yang memuat narasi keliru mengenai bergesernya patok perbatasan Indonesia-Malaysia.

Gambar ini menyebar di tengah polemik manuver kapal Cina di perairan Natuna. Polemik ini bermula saat kapal penjaga pantai pemerintah Cina muncul di perairan Natuna. Kapal itu menjaga beberapa kapal ikan yang sudah masuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Saat itu, keberadaan mereka diketahui oleh KM Tanjung Datu 301 milik Badan Keamanan Laut atau Bakamla. Saat diusir, kapal Cina itu justru menolak dengan alasan mereka berada di wilayah perairan milik sendiri.

Namun, benarkah Malaysia diam-diam menggeser patok perbatasan Indonesia hingga 1 kilometer saat Indonesia dan Cina memanas?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo memasukkan kata kunci yang termuat di judul artikel dalam gambar tangkapan layar di atas, yakni "Indonesia & China memanas, diam-diam Malaysia geser patok perbatasan Indonesia hingga 1 kilometer".

Hasilnya, ditemukan bahwa berita dengan judul tersebut pernah dipublikasikan oleh situs Tribunnews.com pada 4 Januari 2020. Namun, saat dibuka, berita tersebut sudah dihapus. Tidak ditemukan berita lain dengan judul serupa yang dimuat oleh media arus utama lainnya.

Tempo pun menelusuri pemberitaan di media arus utama mengenai "patok perbatasan Indonesia-Malaysia bergeser hingga 1 kilometer". Hasilnya, ditemukan beberapa berita terkait pada Maret 2019 lalu atau sebelum terjadinya polemik manuver kapal Cina di perairan Natuna pada akhir Desember 2019 kemarin.

Dilansir dari laman Antaranews.com, bergesernya patok perbatasan Indonesia-Malaysia itu terjadi di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tepatnya di Desa Ajikuning, Kecamatan Sebatik Tengah.

Berita di Antaranews.com mengenai bergesernya patok perbatasan Indonesia-Malaysia pada Maret 2019 lalu.

Menurut Asisten Intelijen Komando Armada Timur II, Kolonel Laut Jatiar Sinaga, patok perbatasan di Desa Ajikuning itu seharusnya berdiri pada koordinat 4.10 derajat. Namun, setelah ditelusuri, patok perbatasan itu berada 1 kilometer di dalam wilayah NKRI.

Jatiar menyatakan, saat menyusuri jalur sungai Desa Ajikuning, timnya dikabarkan masuk di wilayah kedaulatan Malaysia. Padahal, jika merunut pada titik koordinat yang sebenarnya, patok perbatasan tersebut berdiri di sebelah sungai itu.

Menurut Jatiar, fakta yang ditemukan di lapangan soal patok perbatasan ini pun akan dilaporkan kepada pimpinannya dan pemerintah Indonesia. Tujuannya, agar dapat diselesaikan bersama demi kedaulatan NKRI.

Berita dari Antara ini pun dikutip oleh sejumlah media, seperti Okezone.com, Kumparan.com, dan HarianJogja.com. Okezone.com, misalnya, memberitakan peristiwa itu dengan judul "Patok Batas Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik Bergeser 1 Kilometer".

Pengukuran ulang perbatasan Indonesia-Malaysia

Dilansir dari situs Liputan6.com, untuk menyudahi polemik yang berlangsung selama bertahun-tahun, batas negara Indonesia dengan Malaysia di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, diukur ulang oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia bersama Jabatan Ukur dan Pemetaan (Jupem) Malaysia.

Pengukuran, pengecekan, serta pemetaan batas kedua negara untuk menentukan batas terbaru itu dilakukan pada 14 Juli 2019 dan dikawal secara ketat oleh Kompi 1 Pulau Sebatik Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Batalyon Infanteri Raider 600 Modang serta Tentara Diraja Malaysia (TDM).

Pengecekan yang berlangsung selama tiga hari tersebut dimulai dari patok di wilayah timur hingga barat Pulau Sebatik dengan melewati 10 patok kelanjutan dari program nasional dari Direktorat Topografi Mabes TNI.

Komandan Satgas Pamtas Yonif Raider 600 Modang, Mayor Inf Ronald Wahyudi, berharap kegiatan ini menjadi titik cerah batas negara Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik. "Diharapkan, dengan adanya pengukuran ulang ini, akan dapat segera mempertegas batas negara yang selama ini diperdebatkan," katanya.

Kasus patok perbatasan Indonesia-Malaysia

Bergesernya patok perbatasan Indonesia-Malaysia tidak hanya terjadi pada Maret 2019 lalu. Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, kasus serupa pernah terjadi pada Juli 2007. Peristiwa itu terjadi di Gunung Lasantuyan, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Penyebabnya, karena adanya jalur distribusi praktek pembalakan hutan secara liar.

Selain bergeser, patok perbatasan Indonesia-Malaysia juga pernah hilang, yakni pada awal 2007 lalu. Peristiwa itu terjadi di perbatasan Sarawak-Desa Tanjung Datu, Kecamatan Palo, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Polisi menduga ratusan patok dari kayu dan besi itu raib untuk dijual kembali.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa Malaysia diam-diam menggeser patok perbatasan Indonesia hingga 1 kilometer saat Indonesia dan Cina memanas merupakan narasi yang menyesatkan. Bergesernya patok perbatasan Indonesia-Malaysia hingga 1 kilometer terjadi pada Maret 2019, sebelum terjadinya polemik manuver kapal Cina di perairan Natuna pada akhir Desember 2019 kemarin. Dalam pemberitaan, tidak disebutkan pula penyebab bergesernya patok perbatasan tersebut.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya