[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ada Kemarau Panjang dalam 3 Tahun dan Menjadi Tanda-Tanda Kedatangan Dajjal?

Senin, 5 Agustus 2019 16:31 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ada Kemarau Panjang dalam 3 Tahun dan Menjadi Tanda-Tanda Kedatangan Dajjal?

Video berjudul “Hati-hati BMKG Memberi Peringatan (Kemarau Panjang 2019-2022)" menjadi viral di media sosial. Video itu diunggah di akun Hijab Cantik di YouTube yang dipublikasikan pada 29 Juli 2019. Hingga 5 Agustus 2019, video itu telah ditonton 63.513 kali. 

Berdurasi 2 menit 22 detik, video itu berisi infografis daerah-daerah yang mengalami kurang hujan terpanjang per 20 Juli 2019. Namun video itu mengandung narasi yang berbeda dengan infografis yang disajikan.

Suara pria dalam video itu, mengklaim, bahwa BMKG dunia telah mengumumkan ada tiga tahun berturut-turut ke depan, bumi akan mengalami kemarau panjang dan ekstrem. Kelaparan akan melanda di seluruh muka bumi.

Narasi kemudian mengkaitkan prediksi kemarau panjang itu dengan dajjal yang akan keluar sebagai tanda-tanda kiamat. "Jawabannya adalah wallahu’alam.”

Artikel ini akan memeriksa benarkah BMKG mengeluarkan pengumuman kemarau panjang dalam 3 tahun mendatang dan seluruh dunia akan kelaparan? Dan benarkah kemarau panjang ini berkaitan dengan datangnya dajjal?

 

PEMERIKSAAN FAKTA

Informasi yang mengkaitkan kemarau panjang dengan dajjal ternyata adalah kabar bohong berulang yang muncul setiap tahun.

Pada 25 Maret 2019, juga muncul video dengan narasi sama di Youtube berjudul “Benarkah tahun ini, 3 kemarau panjang sebelum dajjal datang, tanda-tanda kiamat”. Video ini telah ditonton lebih dari 1,5 juta orang. 

Sebelumnya, video dengan narasi serupa juga telah muncul pada 2017. Bahkan untuk meyakinkan pembaca, video mencatumkan artikel The Guardian berjudul "Here is the Weather Forecast for the Next Five Years: Even Hotter”. Padahal tidak ada yang salah dalam artikel di dalam The Guardian ini, karena membicarakan fakta kecenderungan suhu global yang diprediksikan terus naik menimbulkan tahun tahun yang lebih panas sebelumnya, dan sama sekali tidak menyinggung kekeringan panjang.

BMKG sendiri pernah mengeluarkan rilis pada 13 Oktober 2018 yang membantah narasi kemarau panjang dalam tiga tahun dan dikaitkan dengan tanda-tanda kiamat atau datangnya dajjal.

Deputi Klimatologi BMKG, Herizal menyatakan bahwa "BMKG sudah membantah isu yang meresahkan tersebut melalui berbagai media hampir tiap tahun, namun tiap tahun juga isu tersebut terus beredar-ulang,” katanya. 

Klarifikasi yang dimuat di situs resmi BMKG.

Menurut Herizal, benar ada kondisi perubahan iklim akibat kecenderungan naik pemanasan global pada periode klimatologi hingga saat in. Namun tidak ada musim kemarau yang berlangsung sepanjang tahun bahkan hingga menyeberang tahun. Ada kalanya musim kemarau dapat menjadi lebih parah tingkat keringnya atau menjadi lebih lama berlangsungnya kalau ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah EL Nino.

Amplifikasi atas kabar berantai itu terjadi karena ketidakhati-hatian dalam memahami konteks riset/studi mutakhir soal tren peningkatan suhu global. Selain itu, ada upaya pembuat misinformasi yang mengaitkan topik pemanasan global dengan pemahaman atas keyakinan tertentu, yakni soal kiamat.

Pemutakhiran terbaru prakiraan BMKG dari data hingga 1 Oktober 2018 menyebutkan, 68% wilayah akan terlambat awal musim hujannya. Awal Musim Hujan di 342 Zona Musim (ZOM), 43.% diprediksikan akan mulai pada bulan November 2018, 22.8% di bulan Oktober di sebanyak 78 ZOM, dan selebihnya di bulan Desember 2018.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis 30 tahun (periode 1981-2010), Awal Musim Hujan 2018/2019 umumnya akan mundur (68.4%), normal sesuai klimatologisnya di 78 ZOM (22.8%) dan maju sebanyak 30 ZOM (8.8%). Selebihnya, 147 ZOM meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Papua akan mulai musim hujan pada November 2018 dan 85 ZOM lainnya akan mulai pada Desember 2018.

Sementara itu, BMKG dan lembaga internasional lainnya telah memantau adanya anomali suhu muka laut melebihi 0.5C di Samudera Pasifik bagian tengah dalam seminggu terakhir, peluang El Nino meningkat hingga dengan 70% apanila kemungkinan El Nino berkembang pada akhir tahun ini. Intensitasnya belum dapat dipastikan, tetapi kecil kemungkinannya berkembang menjadi El Nino yang kuat seperti kejadian El Nino 2015.

 

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, bisa disimpulkan bahwa narasi kemarau panjang dan kelaparan sedunia yang melanda 2019-2022 adalah keliru. Mengkaitkannya dengan kedatangan dajjal juga tidak relevan.

 

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id