Benarkah 150 Anak Penghafal Al-Quran di Afghanistan yang Tengah Merayakan Kelulusan Terbunuh Akibat Serangan Tentara Koalisi Amerika?

Selasa, 30 April 2019 08:09 WIB
 
Benarkah 150 Anak Penghafal Al-Quran di Afghanistan yang Tengah Merayakan Kelulusan Terbunuh Akibat Serangan Tentara Koalisi Amerika?

Sebuah foto upacara pemakaman di Afghanistan menjadi viral di jejaring sosial Facebook. Foto yang diunggah akun Ahmad Sidiq itu disertai narasi bahwa 150 anak-anak penghafal Al-Quran di Afghanistan yang tengah merayakan kelulusan, terbunuh akibat serangan tentara koalisi Amerika.

Foto yang diunggah akun Ahmad Sidiq itu disertai narasi bahwa 150 anak-anak penghafal Al-Quran di Afghanistan yang tengah merayakan kelulusan, terbunuh akibat serangan tentara koalisi Amerika.

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Berita duka dari Afghanistan. Telah meninggal 150 anak-anak Hafidz Qur'an saat merayakan kelulusan mereka. Dengan di kalungi Bunga mereka di bom pesawat oleh pemerintah dan koalisi Amerika,” tulis akun Ahmad Sidiq.

Akun Ahmad Sidiq juga menyertai keterangan unggahannya dengan beberapa bait doa kepada korban yang ia sebut sebagai anak-anak Hafidz Quran.
Sejak diunggah pada 25 April 2018, informasi ini telah mendapat 2,8 rb komentar serta 1,6 rb kali dibagikan oleh akun lainnya.

 

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tempo.co, foto tersebut telah dimuat oleh laman nytimes.com pada 31 Oktober 2006. Pada keterangan foto dijelaskan bahwa peristiwa tersebut adalah suasana pemakaman bagi 80 orang korban yang terbunuh ketika militer Pakistan melancarkan serangan udara di sebuah sekolah agama dekat perbatasan Afghanistan.

Seorang juru bicara militer Pakistan mengatakan bangunan yang dibom itu adalah rumah bagi para militan yang telah menggunakan situs tersebut sebagai fasilitas pelatihan teroris.

Di antara mereka yang dilaporkan tewas dalam serangan dini hari itu adalah Maulvi Liaqut, seorang ulama yang dituduh pemerintah melindungi para militan lokal dan asing. Liaqut berafiliasi dengan organisasi militan terlarang Tehreek Nifaz-e-Shariat Mohammadi, yang telah merekrut ribuan warga Pakistan untuk bertarung dengan Taliban di Afghanistan.

"Kami menerima laporan intelijen yang dikonfirmasi bahwa 70 hingga 80 militan bersembunyi di sebuah madrasah yang digunakan sebagai fasilitas pelatihan teroris, yang dihancurkan oleh serangan militer, yang dipimpin oleh helikopter," Mayor Jenderal Shaukat Sultan, seorang juru bicara militer, mengatakan kepada The Associated Press.

Peristiwa yang sama juga dilaporkan laman denvertpost.com. Dalam keterangan fotonya disebutkan bahwa pada hari Senin, 31 Oktober 2016, warga berkumpul di sekitar mayat dalam sebuah upacara pemakaman di Khar, kota utama di Distrik Bajur.

Rudal yang ditembakkan oleh helikopter Pakistan menghancurkan sebuah sekolah agama di perbatasan Afghanistan. Pihak militer mengatakan sekolah itu merupakan kamp pelatihan al-Qaeda. Serangan tersebut menewaskan 80 orang.

Militer mengatakan mereka yang tewas adalah gerilyawan, tetapi penduduk desa dan pemimpin agama yang geram mengatakan serangan rudal dini hari menewaskan siswa dan guru yang tidak bersalah di sekolah itu.

Serangan yang menewaskan 80 orang tersebut telah memicu protes keras terhadap presiden negara itu dan Amerika Serikat.

Pejabat militer AS dan Pakistan menyangkal keterlibatan Amerika dan menolak klaim bahwa anak-anak dan perempuan tewas dalam serangan yang meratakan bangunan di desa terpencil di barat laut Chingai, 2 mil dari perbatasan Afghanistan tersebut.

Salah satu orang yang yang terbunuh dalam serangan hari Senin itu adalah Liaquat Hussain, seorang ulama yang telah melindungi militan di masa lalu dan diyakini terkait dengan al-Zawahri.

Serangan itu diluncurkan setelah para pemimpin madrasah, yang dipimpin oleh Hussain, menolak peringatan pemerintah untuk berhenti menggunakan sekolah sebagai kamp pelatihan bagi para teroris, kata seorang juru bicara militer, Mayor Jenderal Shaukat Sultan.

"Para militan ini terlibat dalam aksi di dalam Pakistan dan mungkin di Afghanistan," kata Sultan kepada The Associated Press.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan semua bukti yang ada, pernyataan yang disebarkan akun Ahmad Sidiq ini tidak akurat.

ZAINAL ISHAQ