Keliru, Klaim Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil dari Nama Bintang ke-15 dan Sinar UV Melindungi Indonesia dari Omicron

Senin, 10 Januari 2022 10:58 WIB
 


 
Keliru, Klaim Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil dari Nama Bintang ke-15 dan Sinar UV Melindungi Indonesia dari Omicron

Sebuah video pernyataan mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan yang mengklaim nama virus covid-19 varian Omicron diambil dari nama bintang ke 15 dan sinar Ultraviolet (UV) melindungi Indonesia dari virus varian ini beredar di facebook.

Video ini diunggah akun Angelus Solapung II pada 19 Desember 2021 dengan menambahkan narasi:

“Bersyukurlah Sinar UV (Ultraviolet) di Indonesia bisa menjadi tameng Virus Omicron. #TetapWaspadaTapiJanganPanik. #TetapProkes #KarenaVirusCoronaMasihMengintai #TetapJagaImanImunAman.Amin”.

Dalam video itu Dahlan Iskan menyebutkan, nama virus Covid-19 varian Omicron diambil dari nama planet atau bintang ke 15 yang disebut Omicron. "Kebetulan Covid 19 varian ke 15 ini huruf O, maka dicarilah nama dengan huruf O. Tetapi karena virus ini kecil dan ada bintang ke 15 yang sudah diberi nama Omicron maka sekalian varian baru Covid-19 diberi nama Omicron. Juga karena harus mencari nama dari o kecil, karena sudah ada Omega, o besar. Nah o kecil itu dalam bahasa Yunani kan disebut Omicron. ," ujar Dahlan.

Selain itu, Dahlan juga menjelaskan alasan di Indonesia virus Covid-19 varian omicron dinilainya tidak separah di negara lain. Menurut dia alasannya karena sinar ultraviolet (UV) yang menyinari Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain. Dahlan bahkan juga mengutip informasi dari seorang ahli virus yang disebutnya bernama Doktor Indro, yang menyampaikan bahwa tingkat sinar Ultraviolet di Indonesia berada pada tingkatan 8 hingga 10 dan tergolong panas. Kondisi ini dinilai yang menyebabkan penyebaran Covid-19 varian Omicron di Indonesia tidak separah negara lain yang juga panas tapi tingkat sinar UV-nya tak setinggi Indonesia.

Lantas benarkah klaim-klaim terkait virus Covid-19 omicron yang disebutkan dalam video tersebut?

Tangkapan layar unggahan dengan klaim Keliru, bahwa Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil Dari Nama Bintang ke-15 dan Sinar UV Melindungi Indonesia Dari Omicron
PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim dalam video tersebut, Tempo mula-mula menelusuri jejak digital terkait video tersebut sekaligus memeriksa  informasi terkait asal muasal penamaan  virus Covid-19 varian Omicron dan hubungannya dengan sinar UV dari sumber yang kredibel. 

Hasilnya diketahui video tersebut identik dengan video yang diunggah akun instragram @jambiekspres pada 17 Desember 2021. Akun ini menambah narasi “Asal Nama Omicron dan Kaitannya dengan UV. Berikut penjelasan Wartawan Senior sekaligus Founder Jambi Ekspres Bpk Dahlan Iskan. Video : Harian Disway”

Klaim 1 : Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil Dari Nama Bintang ke 15

Dilansir dari The New York Times, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya mulai menamai varian Covid-19 dengan menggunakan huruf Yunani. Omicron adalah varian Covid-19 yang muncul di Afrika Selatan dinamai berdasarkan huruf ke-15 dari alfabet Yunani. Sistem penamaan ini, yang diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Mei, bertujuan untuk membuat komunikasi publik tentang varian Covid-19  lebih mudah dan tidak membingungkan.

Misalnya, varian yang muncul di India tidak populer dengan nama B.1.617.2. Sebaliknya, itu dikenal sebagai Delta, huruf keempat dari alfabet Yunani. Sekarang ada tujuh "varian minat" atau "varian perhatian" dan masing-masing memiliki huruf Yunani.

Beberapa varian lain dengan huruf Yunani tidak mencapai tingkat klasifikasi tersebut, dan WHO juga melewatkan dua huruf tepat sebelum Omicron - "Nu" dan "Xi" - yang mengarah ke spekulasi tentang apakah "Xi" dihindari untuk menghormati presiden China, Xi Jinping.

“Nu, terlalu mudah dikacaukan dengan baru,” kata seorang juru bicara WHO, Tarik Jasarevic. "Dan 'Xi' tidak digunakan karena itu adalah nama belakang yang umum."

Dia menambahkan bahwa praktik terbaik badan tersebut untuk penamaan penyakit menyarankan untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional atau etnis."
WHO telah mempromosikan sistem penamaan yang sederhana dan mudah diakses, tidak seperti nama ilmiah variannya, yang sulit untuk diucapkan dan diingat, dan rentan terhadap kesalahan pelaporan.

Angela Rasmussen, seorang ahli virologi di Universitas Saskatchewan, mengatakan bahwa dia melakukan banyak wawancara dengan wartawan tahun ini. Sebelum sistem penamaan Yunani diumumkan banyak yang bingung dengan penjelasan tentang varian B.1.1.7 dan B.1.351. Adapun dua varian itu sekarang dikenal sebagai Alpha, yang muncul di Inggris dan Beta, yang muncul di Afrika Selatan.

“Itu membuatnya sangat rumit untuk dibicarakan ketika Anda terus-menerus menggunakan sup alfabet dengan sebutan varian. Pada akhirnya orang-orang akhirnya menyebutnya varian Inggris atau varian Afrika Selatan,” katanya. Itulah alasan besar lainnya mengapa WHO pindah ke sistem penamaan Yunani.

Dr. Rasmussen mengatakan: Konvensi penamaan yang lebih lama tidak adil bagi orang-orang di mana virus itu muncul. Agensi menyebut praktik menggambarkan varian berdasarkan tempat mereka terdeteksi sebagai "stigmatisasi dan diskriminatif." Praktik penamaan virus untuk wilayah juga secara historis menyesatkan. Ebola, misalnya, dinamai untuk sungai yang sebenarnya jauh dari tempat virus itu muncul.

Dikutip dari usatoday, Pada bulan Mei, WHO mengumumkan akan menggunakan sistem baru untuk penamaan varian untuk menghindari kebingungan dan stigma ke negara-negara di mana varian pertama kali didokumentasikan. Nama ilmiah Omicron sendiri di bawah sistem Pango, dari kelompok Penugasan Filogenetik Bernama Global Outbreak, adalah B.1.1.529, yang menyampaikan informasi ilmiah tentang garis keturunannya.

WHO mengatakan tujuan penggunaan alfabet Yunani adalah untuk memudahkan dan lebih praktis bagi komunitas non-ilmiah untuk membahas variannya. Menggunakan huruf Yunani sangat membantu ketika berkomunikasi dengan pasien atau anggota staf yang tidak terlatih dalam memahami aspek teknis dari perbedaan varian.

Memanggil varian dengan nama negara juga dapat menimbulkan stigma yang tidak adil ketika varian tersebut mungkin tidak berasal dari negara tersebut dan baru pertama kali terdeteksi di sana.

Afrika Selatan melaporkan kasus pertama varian omicron ke WHO pada 24 November. Infeksi pertama yang diketahui berasal dari sampel yang dikumpulkan pada 9 November, tetapi Botswana juga memiliki sampel yang dikumpulkan pada 11 November dengan varian yang ada. WHO mencantumkan "beberapa negara" untuk sampel terdokumentasi paling awal sebagai hasilnya.

Penelusuran Tempo, informasi palsu terkait penamaan virus Covid-19 varian Omicrom juga pernah beredar pada pertengah Desember 2021. Sebelumnya penamaan virus Covid-19 varian Omicron sempat dikaitkan dengan nama sebuah video game buatan Microsoft (Bill Gates) pada tahun 1999.

 
Klaim 2 :  Tingkat Sinar UV Tinggi Melindungi Indonesia Dari Virus Covid-19 Varian Omicron

Dikutip dari Tirto, menurut Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, tidak ada hubungannya penyebaran virus Covid-19 varian Omicron dengan tingkat sinar ultraviolet di Indonesia. Omicron sendiri pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan yang punya cuaca panas seperti Indonesia. Yang jelas varian apapun hanya bisa dicegah dengan vaksinasi, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan deteksi dini kalau ada keluhan. 

Muhamad Fajri Addai, dokter Relawan Covid-19, seperti dilansir liputan6 mengatakan. tidak ada bukti ilmiah manapun yang menyebut varian Omicron tidak menyebar di Indonesia karena tingginya sinar ultraviolet. Faktanya di Singapura dan Malaysia yang negara tetangga Indonesia juga menyebar.  Banyak faktor yang bisa menyebabkan varian Omicron tidak menyebar seperti tingginya vaksinasi, atau di sini mungkin kekebalannya sudah tinggi atau mungkin karena tidak terdeteksi. Tapi bisa saja terjadi lonjakan lagi, tidak ada yang bisa menjamin.

Di Indonesia sendiri meski memiliki cuaca yang tergolong panas, kasus  Covid-19 varian Omicron (B.1.1.529) seperti dikutip dari katadata, terpantau mengalami peningkatan. Hingga 5 Januari 2021, kasus Covid-19 Omicron di dalam negeri sudah mencapai 254 kasus. Berdasarkan data Newsnodes, jumlah ini menempatkan Indonesia berada di peringkat ketiga tertinggi di Asia Tenggara.  

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya pernah menyarankan agar tidak menggunakan sinar Ultraviolet untuk membunuh virus. Radiasi ultraviolet (UV) sesungguhnya dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia, hewan, organisme laut, dan kehidupan tumbuhan. Pada manusia, peningkatan paparan sinar UV dapat menyebabkan kanker kulit, katarak, dan kerusakan sistem kekebalan.

Sinar matahari diketahui mengandung tiga jenis UV. Pertama adalah UVA atau sinar gelombang panjang. Sinar ini merupakan sebagian besar radiasi ultraviolet yang mencapai permukaan bumi, dan mampu menembus jauh ke dalam kulit dan dianggap bertanggung jawab atas hingga 80% penuaan kulit, dari kerutan hingga bintik-bintik penuaan.

Kedua UVB atau sinar gelombang pendek. Sinar ini diketahui dapat merusak DNA di kulit kita, menyebabkan kulit terbakar dan akhirnya kanker kulit. Baru-baru ini para ilmuwan telah menemukan bahwa UVA juga dapat melakukan ini.  Ada juga tipe ketiga: UVC. Bagian spektrum yang relatif tidak jelas ini terdiri dari panjang gelombang cahaya yang lebih pendek dan lebih energik. Ini sangat baik dalam menghancurkan materi genetik – baik pada manusia atau partikel virus. Untungnya, kebanyakan orang tidak mungkin pernah mengalaminya. Itu karena disaring oleh ozon di atmosfer jauh sebelum mencapai kulit kita yang rapuh.

Dikutip dari cekfakta USATODAY, klaim yang mengatakan sinar matahari mampu membunuh virus corona baru memiliki sedikit kebenaran. Para ahli menyarankan agar tidak menggunakan sinar UV pekat untuk mencegah atau mengobati virus corona dan tidak merekomendasikan pergi di bawah sinar matahari untuk membunuh virus.

Hanya tingkat sinar UV yang jauh lebih tinggi dari sinar matahari yang dapat membunuh virus, kata para ahli, dan tingkat yang membunuh virus dapat menyebabkan iritasi pada kulit manusia dan harus dihindari.

Pokrath Hansasuta, asisten profesor virologi di Universitas Chulalongkorn, menjelaskan Ultraviolet mampu membunuh COVID-19 jika terkena sinar UV pekat dalam waktu dan jarak tertentu,  Namun, tingkat paparan UV itu berbahaya bagi kulit manusia. 

Organisasi Kesehatan Dunia membuat grafik sebagai bagian dari rangkaian penghancur mitos tentang virus corona yang memberitahu masyarakat untuk tidak menggunakan sinar UV untuk membunuh virus.

Majalah Time melaporkan penelitian baru yang belum ditinjau sejawat menyarankan kemungkinan hubungan antara panas dan laju penyebaran virus corona, tetapi para ahli menyimpulkan penelitian itu masih awal dan belum pasti.

Nancy Meissonnier, direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernafasan CDC, mengatakan dalam sebuah wawancara NPR pada bulan Februari bahwa tidak jelas bagaimana virus corona akan bereaksi terhadap panas atau sinar matahari. "Saya pikir terlalu dini untuk berasumsi seperti itu," kata Messonnier. "Kami belum pernah melewati satu tahun pun dengan patogen ini."

 
KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaaan fakta Tempo, klaim bahwa penamaan virus Covid-19 varian Omicron diambil dari nama bintang ke-15 dan sinar Ultraviolet (UV) melindungi Indonesia dari virus varian ini, keliru. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan penamaan varian Covid-19 seperti Omicron bukan didasarkan pada nama planet atau bintang ke-15, melainkan diambil dari alfabet Yunani demi menghindari kebingungan publik dan stigma. 

Sementara untuk sinar UV dapat melindungi dari penyebaran virus Covid-19 varian Omicron hingga saat ini diketahui belum ada bukti ilmiah. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI menyatakan, cara mencegah penyebaran covid-19 varian Omicron hanya bisa dicegah dengan vaksinasi, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan deteksi dini kalau ada keluhan, bukan dengan sinar UV. Badan Kesehatan Dunia bahkan menyarankan untuk tidak menggunakan sinar UV karena dapat merusak kulit.

TIM CEKFAKTA TEMPO



  •  

    Selengkapnya