[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pemerintah Cina Minta Izin Pengadilan untuk Bunuh 20 Ribu Pasien Virus Corona?

Selasa, 11 Februari 2020 14:11 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pemerintah Cina Minta Izin Pengadilan untuk Bunuh 20 Ribu Pasien Virus Corona?

Narasi bahwa pemerintah Cina meminta izin pengadilan untuk membunuh lebih dari 20 ribu pasien virus Corona Wuhan beredar di media sosial. Narasi itu terdapat dalam sebuah artikel berbahasa Inggris yang berjudul "China seek for court's approval to kill the over 20,000 coronavirus patients to avoid further spread of the virus".

Salah satu akun yang membagikan gambar tangkapan layar judul artikel itu adalah akun Facebook Hamzah Al Muhajir, yakni pada Senin, 10 Februari 2020. Dalam unggahannya, akun ini juga menyertakan isi artikel tersebut yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Berikut ini isi artikel yang disalin oleh akun Hamzah Al Muhajir:

"Pemerintahan China meminta persetujuan pengadilan untuk membunuh lebih dari 20.000 pasien Coronavirus untuk menghindari penyebaran virus lebih lanjut.

Tingkat pengadilan tertinggi di China, Mahkamah Agung Rakyat, diharapkan memberikan persetujuan pada hari Jumat untuk pembunuhan massal pasien Coronavirus di China sebagai cara yang pasti untuk mengendalikan penyebaran virus mematikan.

Negara mengatakan kepada pengadilan bahwa China hampir kehilangan pekerja kesehatannya karena Coronavirus karena setidaknya 20 petugas kesehatan tertular virus tersebut setiap hari.

Negara berpendapat bahwa pasien Coronavirus yang dirawat di rumah sakit hanya memiliki kematian yang tertunda dan menginfeksi banyak orang lain saat menerima perawatan di rumah sakit.

China telah dikritik karena pelanggaran hak asasi manusia dan organisasi mempertanyakan pendekatan China dalam menangani wabah Coronavirus dan diyakini negara itu telah membunuh banyak pasien virus koronanya."

Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun Facebook Hamzah Al Muhajir tersebut telah dibagikan sebanyak 150 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Hamzah Al Muhajir yang memuat narasi keliru mengenai virus Corona Wuhan.

Apa benar pemerintah Cina meminta izin pengadilan untuk membunuh lebih dari 20 ribu pasien virus Corona Wuhan?

PEMERIKSAAN FAKTA

Tempo memasukkan judul artikel berbahasa Inggris itu ke mesin pencarian Google. Hasilnya, artikel tersebut merupakan artikel yang dipublikasikan oleh media Ab-tc.com. Namun, tidak terdapat keterangan tanggal dimuatnya artikel itu.

Dari pemeriksaan terhadap konten, tidak ada pula narasumber yang diwawancara maupun sumber lainnya yang dikutip. Situs berita lain, termasuk kantor berita Cina Xinhua, pun tidak pernah memuat informasi seperti yang disebutkan dalam artikel di Ab-tc.com.

Selain itu, Ab-tc.com tidak memiliki halaman "About Us" yang menunjukkan susunan redaksi, termasuk penanggung jawab situs, alamat perusahaan, serta nomor kontak perusahaan. Berdasarkan pemeriksaan situs lewat Domain Big Data, Ab-tc.com didaftarkan pada 16 Desember 2016 dan dimiliki oleh perseorangan, yakni Alim Zaidi. Namun, alamat yang dicantumkan tidak jelas.

Sejumlah organisasi cek fakta juga telah membantah isi berita yang disebarkan oleh Ab-tc.com tersebut. AFP, misalnya, telah melakukan pencarian kata kunci di Pusat Informasi Internet Cina milik pemerintah mengenai klaim itu. Namun, tidak ditemukan hasil yang cocok

Situs resmi Mahkamah Agung Cina juga tidak pernah menyebutkan adanya persidangan terkait permintaan izin dari pemerintah Cina untuk membunuh 20 ribu pasien virus Corona Wuhan.

Snopes, organisasi cek fakta Amerika Serikat, telah berulang kali menemukan berita palsu yang dipublikasikan oleh Ab-tc.com. Menurut Snopes, artikel di situs itu pada Juli 2010, yang masih ditampilkan di berandanya, memuat judul, "BREAKING: New York Giants coach Pat Shurmur has died". Faktanya, Shurmur masih hidup sampai saat ini.

Ab-tc.com juga pernah mempublikasikan berita palsu tentang "restoran kanibal", kematian pasangan selebriti, dan tweet dari Presiden Amerika Donald Trump. Situs ini pun pernah memuat berita bohong yang mengklaim bahwa Pangeran Andrew, anak ketiga Ratu Elizabeth, bunuh diri.

Selain itu, Ab-tc.com pernah menyebarkan informasi yang salah tentang virus Corona Wuhan di Singapura. Pemerintah Singapura merilis pernyataan pada 30 Januari 2020 untuk membantah artikel di Ab-tc.com yang berjudul "BREAKING NEWS: Singapore records six more coronavirus case, total of 16 now" tersebut.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel mengenai pemerintah Cina yang meminta izin pengadilan untuk membunuh lebih dari 20 ribu pasien virus Corona Wuhan. Tidak ada pula sumber yang dikutip oleh artikel di Ab-tc.com. Situs ini pun telah berulang kali menerbitkan berita palsu terkait berbagai isu, termasuk virus Corona Wuhan. Dengan demikian, unggahan di atas keliru.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya