[Fakta atau Hoaks] Benarkah Kristen Ortodok Syiria adalah Agama Baru Meniru Islam?

Rabu, 17 Juli 2019 13:33 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Kristen Ortodok Syiria adalah Agama Baru Meniru Islam?

Video berdurasi 2 menit 16 detik dengan narasi agama Kristen Ortodok Syiria sebagai agama baru yang meniru Islam menjadi viral di media sosial. Di Facebook, video itu diunggah halaman Top Film pada 14 Juli 2019.

Sebuah video tentang agama Kristen Ortodok Syiria diunggah ke Facebook disertai narasi bahwa Islam terancam.

Konten video itu memperlihatkan cara beribadah umat Kristen Ortodok yang dianggap meniru Islam, seperti cara shalat, cara berpakaian dan bacaannya mirip lantunan ayat Al-Quran. Bahkan bentuk gerejanya pun diklaim mirip masjid.

“Mengerikan. Agama baru yang meniru Islam, agama baru Kristian Ortodox dari Syiria dan Lebanon. Gerejanya seperti masjid, bila dengar bacaan mereka macam lantunan ayat Al Quran,” demikian suara dalam video itu. 

Narasi berlanjut dengan mengatakan bahwa agama baru itu mengancam umat Islam.

“Takut rasanya dengan generasi muda, musibah mengintai umat Islam.”

Video itu telah dibagikan 67 ribu kali dan mendapatkan komentar 1,3 ribu kali.

 

PEMERIKSAAN FAKTA

Kristen Ortodoks Syiria bukan agama baru di dunia. Agama ini sudah ada sejak abad 5 Masehi, lebih tua dari agama Islam yang lahir pada abad 6 Masehi.

Akarnya dari Yerusalem yang terdiri dari para Rasul Yesus Kristus, para penginjil dan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Pada abad 1 Masehi, pusatnya kemudian berpindah ke kota Antiokhia, dan kemudian ke Urhoy (Eddesa) ditambah dengan orang-orang Aramia yang sudah bertobat dan bangsa-bangsa non-Yahudi yang lain. Perkembangan agama ini kerap diliputi konflik.

Abad ke-19 dan ke-20 adalah masa yang bergejolak bagi Ortodoks Syria di Timur Tengah, dan perjuangan untuk bertahan hidup menjadi semakin intens. Markas besar Patriarkat, yang berada di Antiokhia sampai 1034, di biara Mar Barsauma hingga 1293, dan di biara Der Zafaran sampai 1933, pindah ke Homs pada 1933 dan kemudian ke Damaskus pada tahun 1959.

Gereja Ortodoks Syria pada abad ke-21 memiliki hierarki yang mapan di Suriah, Lebanon, Irak, Yordania, Turki, India, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Ada juga Keuskupan Agung Eropa Tengah dan negara-negara Benelux yang berpusat di Belanda, sebuah keuskupan agung dan Vikariat patriarki di Metropolitanate of Sweden dan Scandinavia yang berbasis di Södertälje, Swedia, dan sebuah keuskupan agung di Jerman. 

Di Indonesia pengikut gereja ini memang belum cukup banyak, baru sekitar 100 orang. Tapi kalau simpatisannya, sudah mencapai ribuan. Untuk menjadi pengikut resmi di Indonesia belum bisa dilakukan, karena Gereja Ortodoks Syria di Indonesia belum mempunyai imam dan gereja.

Padahal untuk bisa menjadi pengikut resmi harus melewati prosedur pembaptisan seorang imam. Di Indonesia, gerakan dari para pengikut gereja ini baru bersifat studi atau kajian, yang dipelopori oleh Bambang Noorsena sejak tahun 1997. Sebab itu, untuk sementara ini bagi jamaah yang ingin menjadi pengikut resmi gereja ini (di Indonesia dinamakan Kanisah Ortodoks Syria) harus melalui prosedur pembaptisan Abuna Abraham Oo Men di Singapura.

 

Kesamaan dengan Islam

 

Menurut Prof Dr Nurcholis Madjid, agama Nasrani itu makin klasik makin banyak kemiripannya dengan Islam. “Aliran KOS itu justru lebih murni ketimbang Kristen yang berkembang di Barat,” kata Nurcholis dikutip dari Suara Islam. 

Sementara Jalaluddin Rahmat, tidak merasa kaget terhadap adanya banyak kesamaan antara Islam dengan KOS. Pada zaman dulu, orang-orang Islam di Yordania, Syria, dan Lebanon hidup berdampingan dengan orang-orang Kristen, yang dikenal dengan Kristen Maronit. Mereka melakukan tatacara peribadatan hampir mirip dengan cara beribadah umat Islam.

Berikut ini beberapa kesamaan cara beribadah antara Kristen Ortodoks Syiria dan Islam:

 

Shalat

Istilah á¹£alAt dalam bahasa Arab menunjukkan doa dalam tertib dan waktu tertentu. Istilah ini juga dikenal dalam tradisi liturgis Kristen yang sejajar dengan istilah Yunani προσεχη (prosekee). Menurut Arthur Jefferey, kata Arab á¹£alAt berasal dari sumber Aram/Suryani/Syriac, tselota. Istilah tselota ini hingga sekarang dilestarikan gereja-gereja yang masih melestarikan bahasa Suryani (Gereja Ortodoks Syria, Gereja Assyria/Syria Timur, Gereja Katolik Maronit di Libanon dan Gereja Katolik Kaldea Kesatuan/Uniate Chaldean di Irak). Sedang kata Arab á¹£alat dipakai bersama-sama oleh Islam, dan seluruh gereja di Timur Tengah.

Bedanya, bila kaum Muslimin diwajibkan shalat 5 kali sehari, penganut Gereja Ortodoks Syria lebih banyak lagi, 7 kali sehari atau setiap 3 jam. Mereka menyebutnya: sa`atul awwal/saphro (fajar/Shubuh), sa`atuts tsalis/tloth sho`in (Dhuha), sa`atus sadis/sheth sho`in (Zhuhur), sa`atut tis`ah tsha` sho`in (Ashar), sa`atul ghurub/ramsho (Maghrib), sa`atun naum/sootoro (Isya’), dan sa`atul layl/ lilyo (tengah malam). 

 

Ibadah Haji

Umat Kristen Ortodok Syiria mengenal Ibadah Haji ke Palestina. Ini termasuk ibadah non-sakramen, seperti juga shalat, zakat persepuluhan, serta puasa. Berdasar Kitab Ulangan 16: 16-17 disebutkan hag atau haji dilakukan ke tanah suci Palestina menjelang Pekan Kudus (perayaan Paskah). tiga kali dalam setahun. Dan sepulangnya, setiap orang Kristen Ortodoks mendapatkan sertifikat dari Patriakh Jerusalem dengan sebutan hadhi (untuk pria) dan hadhina (untuk wanita).

 

Puasa

Puasa wajib bagi pemeluk Islam yang dilakukan selama sebulan dalam setahun, dikenal dengan á¹£aumu Ramaá¸Än. Sedang pada Gereja Ortodoks Syria disebut á¹£aum al-kabÄ«r (puasa 40 hari berturut-turut) yang dilakukan menjelang Paskah sekitar bulan April. Jika dalam Islam ada puasa sunnah Senin/Kamis, pada Gereja Ortodoks Syria dilakukan pada Rabu-Jum’at, dalam rangka mengenang kesengsaraan Kristus. Selain puasa tersebut, umat Ortodoks Syria umat Ortodoks Syria juga berpuasa 40 hari menjelang Idul Milad (Natal), kemudian puasa 50 hari lagi setelah Hari Pentakosta.

 

Penutup kepala

Gereja Ortodoks Timur mengharuskan para perempuan untuk menutup kepala mereka dengan kerudung, seperti layaknya perempuan muslim, saat berada di gereja. Praktik semacam ini khususnya terjadi di Gereja Ortodoks Rusia.

Selain itu, saat ke gereja, para perempuan dilarang mengenakan celana panjang. Para perempuan harus mengenakan rok panjang. 

 

Gereja mirip masjid

Perbedaan utama dari gereja Ortodoks yang terlihat dari luar — jika dibandingkan dengan gereja Katolik — adalah bentuk atap gereja yang berupa kubah, seperti masjid (perpaduan bentuk bawang dan helm). Bentuk helm (kubah) pada atap gereja merupakan pengingat akan perjuangan spiritual yang dilakukan oleh gereja untuk melawan kekuatan jahat dan kegelapan. Sementara, bentuk meruncing seperti bawang merupakan sebuah simbol api lilin, yang dapat diartikan sebagai penerang dunia. 

 

 

KESIMPULAN

Narasi yang menyatakan bahwa Kristen Ortodoks Syiria adalah agama baru yang meniru Islam adalah keliru. Kehadiran agama ini lebih tua dari Islam, sehingga bukan menjadi ancaman bagi umat Islam.

 

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id