[Fakta atau Hoaks] Benarkah Jokowi, Calon Presiden Nomor 1 Meraih Suara dengan Membagi-bagikan Sembako?

Selasa, 26 Maret 2019 08:45 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Jokowi, Calon Presiden Nomor 1 Meraih Suara dengan Membagi-bagikan Sembako?

Akun Video Bebas @videobebas.tv membagikan video yang menampilkan gambar Presiden Joko Widodo dan suasana pembagian sembako serta amplop kepada puluhan warga.  Akun yang memiliki 8.000 pengikut itu memberi judul “Lihat Cara Mereka Mencari Suara, Apa Ini Dibilang Hoax Juga?” 

 Cuplikan video Presiden Jokowi membagikan sembako bagi warga ke Kelurahan Lebak Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat pada 28 Juni 2016.

Video yang diunggah di Facebook pada 14 Maret 2019 pukul 17.06 itu telah dibagikan 12.779 kali dengan 480 ribu tayangan dan 3.322 komentar. Pada video yang panjangnya  1:01 menit itu, pengelola @videobebas.tv memberi keterangan:

“Perhatikan bapak-bapak berseragam di sekitar capres no 01.  ‘Don't try this at home’. Hanya bisa dilakukan oleh capres 01.”

Dia memberi lingkaran merah kepada seseorang berseragam polisi yang membagikan amplop kepada sejumlah ibu-ibu.

Pengelola @videobebas.tv membuat framing bahwa pembagian sembako itu dilakukan oleh Joko Widodo selalu calon presiden nomor urut satu, dengan memanfaatkan aparat penegak hukum, yaitu polisi.

Sebelumnya, 3 Maret 2019, akun Bela Ulama menyebarkan video yang sama di Yotube. Mereka menuliskan: "Jokowi bagi-bagi sembako dan uang kepada warga, beranikah Bawaslu menindaknya?"

Video ini telah ditonton sebanyak 39.484 kali. Pada bagian akhir video ada komentar dua pemuda yang menilai Jokowi melakukan kampanye menggunakan uang rakyat dan tuntutan agar Jokowi cuti sebagai Presiden pada saat kampanye Pilpres.

Sejumlah akun lain juga menyebarkan video yang sama di YouTube.

PEMERIKSAAN FAKTA

Penelusuran Tempo menemukan video tersebut telah ada di YouTube sejak dua tahun lalu yang diunggah oleh sejumlah media online ternama, misalnya CNN Indonesia dan Tribunnews.com.  Peristiwa tersebut adalah kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kampung Pulo Geulis, Kelurahan Lebak Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat pada 28 Juni 2016. 

Presiden Jokowi membagikan bingkisan sembako kepada warga yang sedang melakukan ibadah puasa Ramadan.  Sejak pukul 12.00 WIB, ratusan warga sudah mengantre. Warga yang didominasi lansia ini berbaris untuk mendapatkan bingkisan yang dibagikan langsung oleh Jokowi.

Saat Jokowi tiba sekitar pukul 14.00 WIB,  warga langsung bersorak dan mencoba mendekati mantan Wali Kota Solo itu.  Didampingi Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Jokowi pun menyapa para warga sambil melambaikan tangan.

Warga lansia yang sudah mengantre mulai dibagi-bagikan bingkisan langsung oleh Jokowi. Mereka juga tampak bersalaman dengan Jokowi setelah mendapatkan bingkisan.

Selain bingkisan, para lansia juga diberikan dua amplop yang berisi Rp100 ribu tiap amplopnya. Adapun isi bingkisan tersebut yakni beras kemasan seberat 5 kilogram, minyak goreng, gula, dan teh.

Hanya dalam kurun waktu satu jam, Jokowi dan rombongan langsung bergegas meninggalkan lokasi.  Pada saat di perjalanan, Presiden membagi-bagikan buku tulis kepada anak-anak.

Wali Kota Bogor Bima Arya menjelaskan Presiden Jokowi yang memilih dua kampung di Bogor yang padat penduduknya dan memiliki angka kemiskinan tinggi. “Warga kita itu belum tentu merasakan Lebaran, yang berbeda dengan hari-hari biasa,” kata Bima kepada wartawan pada 28 Juni 2016.

Cuplikan video Presiden Jokowi membagikan sembako bagi warga ke Kelurahan Lebak Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat pada 28 Juni 2016.

KESIMPULAN

Akun  @videobebas.tv, Bela Ulama dan lainnya menggunakan video yang diunggah sejumlah media. Peristiwa dalam video tersebut benar yaitu kunjungan Presiden Jokowi ke Bogor Tengah untuk membagikan sembako terhadap warga yang sedang beribadah Ramadan.

Namun kejadian itu pada 28 Juni 2016. Bukannya saat ini ketika pasangan Joko Widodo-Maaruf Amin berkampanye untuk Pemilihan Presiden 17 April 2019.

Kami menyimpulkan apa yang dilakukan akun-akun tersebut adalah “sesat”. Yakni berdasarkan sumber yang ada, pernyataan ini menggunakan fakta dan data yang benar, namun cara penyampaiannya atau kesimpulannya keliru serta mengarahkan ke tafsir yang salah.

Untung Widyanto 

 

  •