Sesat, Klaim yang Kaitkan Kasus Vaksin Covid-19 Palsu Ini dengan Vaksinasi di Indonesia

Rabu, 10 Maret 2021 13:22 WIB
 


 
Sesat, Klaim yang Kaitkan Kasus Vaksin Covid-19 Palsu Ini dengan Vaksinasi di Indonesia

Klaim yang mengaitkan vaksinasi Covid-19 di Indonesia dengan sejumlah berita tentang terbongkarnya kasus vaksin Covid-19 palsu beredar di Facebook. Dalam berita-berita tersebut, diketahui bahwa modus pelaku pemalsuan vaksin itu adalah memasukkan larutan garam atau air mineral ke dalam jarum suntik dan menjajakannya sebagai vaksin Covid-19.

Berita-berita ini dibagikan dalam bentuk gambar tangkapan layar. Berita pertama berasal dari BBC Indonesia yang berjudul "Polisi bongkar 'jaringan pemalsu vaksin', seberapa besar masalah vaksin palsu?". Sementara berita kedua berasal dari CNN Indonesia yang berjudul "Sindikat Pembuat Vaksin Covid-19 Palsu Ditangkap".

Dalam gambar tangkapan layar video berita dari CNN Indonesia itu, terlihat sejumlah pria yang sedang memasukkan sejumlah kotak kardus ke dalam mobil box. Terdapat pula seorang pria yang mengenakan pakaian polisi berwarna coklat dan seorang pria yang memakai pakaian hitam dengan tulisan "Gegana" di bagian belakangnya. Gegana merupakan satuan dalam Korps Brimob Polri.

Akun ini membagikan klaim beserta gambar tangkapan layar berita tersebut pada 7 Maret 2021. Akun itu menulis, "Bagus banget! Sementara dipaksa vaksin dengan ancaman karir sampai pidana. Terus ga taunya dapat yang palsu. Kan tambah amsyong ini namanya jadi rakyat +62." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan 391 reaksi dan dibagikan 121 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim sesat terkait kasus vaksin Covid-19 palsu.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, BBC Indonesia dan CNN Indonesia memang pernah memuat berita dengan judul seperti yang terlihat dalam tangkapan layar di atas. Namun, kasus vaksin Covid-19 palsu yang terbongkar yang dimuat dalam kedua berita tersebut bukan terjadi di Indonesia.

Gambar tangkapan layar pertama, yang berasal dari BBC Indonesia, berasal dari unggahan kantor berita tersebut di akun Facebook resminya pada 5 Maret 2021. Sementara gambar tangkapan layar kedua, yang berasal dari CNN Indonesia, merupakan gambar tangkapan layar dari video beritanya yang diunggah ke kanal YouTube resminya pada 4 Maret 2021.

Dalam artikelnya, BBC Indonesia menulis bahwa jaringan pemalsu vaksin Covid-19 itu ditangkap di Cina dan Afrika Selatan, menurut laporan Interpol. Di Cina, polisi menangkap 80 orang di sebuah pabrik yang diduga membuat vaksin palsu. Dalam penangkapan ini, polisi juga menyita sedikitnya 3 ribu dosis vaksin.

Sementara di Afrika Selatan, sebanyak tiga warga negara Cina dan seorang warga Zambia ditahan di sebuah gudang di Kota Gauteng, tempat di mana ampul-ampul berisi 2.400 dosis vaksin palsu ditemukan. Namun, belum diketahui secara pasti kapan penangkapan itu terjadi. Penemuan di Afrika Selatan ini dilaporkan oleh surat kabar Sunday Times pada Desember 2020.

Saat mengumumkan pembekukkan jaringan vaksin yang diduga palsu tersebut, Interpol menekankan bahwa tidak ada vaksin yang disetujui yang "saat ini tersedia untuk dijual secara online". "Setiap vaksin yang diiklankan di internet atau situs web gelap, bukan merupakan vaksin yang sah, tidak teruji, dan mungkin berbahaya," kata Interpol.

Dalam video beritanya, CNN Indonesia juga memaparkan informasi yang sama. Menurut CNN Indonesia, Interpol baru-baru ini membongkar sindikat pembuat vaksin Covid-19 palsu. Vaksin palsu tersebut tidak memiliki izin edar dan dijual secara daring. Tiga warga negara Cina dan satu warga Zambia ditangkap terkait kasus ini.

Mengenai sejumlah pria yang tampak sedang memasukkan sejumlah kotak kardus ke dalam mobil box dan dikawal oleh polisi dalam gambar tangkapan layar di atas, berasal dari detik ke-37 dalam video berita CNN Indonesia tersebut. Ketika itu, narator tengah menjelaskan bagaimana langkah pemerintah Indonesia untuk mencegah beredarnya vaksin Covid-19 palsu.

Salah satu langkah pencegahan yang diambil, menurut juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, adalah dengan pengadaan vaksin satu pintu. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah memiliki mekanisme pengawasan peredaran daring untuk mencegah penyebaran vaksin Covid-19 palsu.

Dilansir dari arsip berita Tempo, Satgas Penanganan Covid-19 juga telah menyatakan bahwa tidak ada vaksin Covid-19 palsu yang beredar di Indonesia, termasuk sindikatnya. "Pemalsuan vaksin Covid-19 adalah sebuah kejahatan yang membahayakan kehidupan masyarakat. Dan sekarang tidak ada sindikat vaksin yang ditemukan di Indonesia," ujar juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito pada 8 Maret 2021.

Wiku menyampaikan pembelian vaksin Covid-19 dilakukan dengan cara G2G (government to government). Dengan demikian, keaslian vaksin terjamin. "Meskipun begitu, pemerintah tetap mengawasi peredaran vaksin di Indonesia. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan perusahaan vaksin untuk memastikan keaslian vaksin," katanya. Ia menambahkan vaksin juga harus mendapatkan izin darurat atau memiliki nomor distribusi dari BPOM.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim yang mengaitkan kasus vaksin Covid-19 palsu dalam berita-berita di atas dengan vaksinasi Covid-19 yang sedang berlangsung di Indonesia, menyesatkan. Kedua berita tersebut memang berisi informasi tentang terbongkarnya jaringan vaksin Covid-19 palsu. Namun, peristiwa itu terjadi di Cina dan Afrika Selatan, bukan di Indonesia.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya