[Fakta atau Hoaks] Benarkah Video Bernarasi OPM Menyerang TNI pada Agustus 2019?

Kamis, 22 Agustus 2019 08:36 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Video Bernarasi OPM Menyerang TNI pada Agustus 2019?

Video yang diklaim sebagai video Organisasi Papua Merdeka atau OPM menyerang TNI beredar di media sosial. Video itu dibagikan pertama kali di halaman Facebook Forum Pecinta TNI AD pada Jumat, 16 Agustus 2019.

Berdurasi 6 menit 47 detik, video itu menampilkan potongan sejumlah video pendek. Namun, secara keseluruhan, video tersebut berisi rekaman ketika pasukan TNI Angkatan Darat terlibat kontak senjata di beberapa lokasi.

Tidak ada keterangan di mana video itu diambil. Namun, Forum Pecinta TNI AD memberikan narasi, “OPM serang TNI. Mari kita doakan Bapak TNI agar sehat selalu dan bisa berkumpul dengan keluarga."

Gambar tangkapan layar unggahan halaman Facebook Forum Pecinta TNI AD pada Jumat, 16 Agustus 2019.

Video itu pun viral. Sejak diunggah pertama kali pada 16 Agustus lalu, video tersebut telah dibagikan sebanyak 2,4 ribu kali di Facebook dan dikomentari sekitar seribu kali.

Komentar yang mendukung aksi TNI dan mengecam OPM banyak bermunculan pada Rabu, 21 Agustus 2019. Video tersebut viral di tengah aksi masyarakat Papua di sejumlah tempat sebagai protes atas kasus persekusi, intimidasi, dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di berbagai kota di Indonesia.

Namun, benarkah OPM menyerang TNI pada 16 Agustus lalu sebagaimana narasi dalam video itu?

PEMERIKSAAN FAKTA

Tempo menggunakan dua cara untuk menelusuri video tersebut. Pertama, kami menggunakan InVID untuk memfragmentasi video menjadi sejumlah keping gambar. Kemudian, setiap gambar di-reverse image untuk menemukan arsip video itu di internet.

Cara yang kedua, kami memasukkan kata kunci “TNI diserang OPM” di YouTube. Kemudian, hasil pencariannya diidentifikasi untuk menemukan video yang sama.

Dengan cara tersebut, Tempo menemukan bahwa video yang diunggah Forum Pecinta TNI AD berasal dari gabungan empat video dengan waktu kejadian yang berbeda, yakni:

1. Detik pertama video hingga detik ke-29 pernah dipublikasikan oleh kanal YouTube ADJ Gaming pada 27 Maret 2019. Video berdurasi 30 detik itu diberi judul “Detik2 terjadi nya baku tembak antara TNI DAN OPM”.

2. Isi video pada detik ke-29 hingga detik ke-49 pernah diunggah akun @gardadepan_id - TNI AD_AL_AU di GalleryOfSocial.com. Namun, tidak ada keterangan kapan video itu pertama kali diunggah.

Dengan cara pencarian yang lain, Tempo menemukan video tersebut juga diunggah oleh akun Otak Kampret di Instagyou dengan keterangan waktu satu bulan yang lalu atau sekitar Juli 2019.

3. Isi video pada detik ke-50 hingga menit 4:50 sama dengan video yang diunggah oleh kanal YouTube Abdul Malik TV 184729. Dalam kanal ini, video berdurasi 4 menit 17 detik itu diberi judul “Markas TNI Diserang KKB/OPM” pada 21 Desember 2018.

Video yang sama juga ditemukan di kanal Kadri Anwar tertanggal 19 Desember 2018.

4. Isi video pada menit 4:41 hingga detik terakhir pernah dipublikasikan oleh kanal YouTube Cowok Keren. Video tertanggal 26 Februari 2019 ini diberi judul “Baku kontak TNI vs OPM di Nduga, Papua”. Terdapat pula keterangan yang berbunyi, “Sekelompok Pasukan TNI yg pada saat itu sedang berjalan mengawal masyarakat sipil dan operator alat berat tiba tiba di pertengahan jalan di tembaki OPM di Nduga, Papua”.

Insiden kontak senjata TNI vs OPM

Dari identifikasi terhadap keempat video itu, Tempo menemukan bahwa rentang peristiwa tersebut adalah Desember 2018 hingga Juli 2019. Ada empat kata kunci yang penting untuk menandai peristiwa dalam video itu, yakni:

- Markas TNI diserang OPM pada Desember 2018
- Baku kontak TNI vs OPM di Nduga pada Februari 2019
- Peristiwa baku tembak TNI vs OPM pada Maret 2019
- Kontak senjata TNI vs OPM pada Juli 2019

Dari empat kata kunci di atas, Tempo kembali menelusuri pemberitaan yang ada sebagai referensi apakah benar pernah terjadi kontak senjata pada rentang Desember 2018 hingga Maret 2019. Berdasarkan penelusuran kami, seluruh kontak senjata itu terjadi di Nduga.

1. Dikutip dari tabloidjubi.com, pos TNI di Yigi, Nduga, diserang oleh kelompok bersenjata yang mengklaim dirinya sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap militer OPM, pada 11 Desember 2018. Serangan ini mengakibatkan dua anggota TNI yang berjaga di pos tersebut terluka.

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kodam) XVII Cenderawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi mengatakan kelompok bersenjata itu menyerang dan menembaki pos TNI tersebut dari ketinggian yang berjarak sekitar 500-600 meter. Anggota TNI di Yigi pun membalas tembakan itu dan sempat mengejar kelompok bersenjata tersebut. Namun, kelompok itu lari ke dalam hutan.

2. Baku tembak kembali terjadi antara anggota TNI dengan kelompok bersenjata Papua di Distrik Mapenduma, Nduga. Kontak senjata ini berlangsung ketika pasukan TNI berpatroli di sekitar pos Lapangan Terbang Mapenduma pada Kamis, 31 Januari 2019. Menurut Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi, kelompok bersenjata ini diduga bagian dari TPNPB-OPM.

3. Pada 7 Maret 2019, anggota TNI diserang kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Nduga. Saat itu, pasukan TNI hendak melakukan pengamanan pembangunan proyek Trans Papua di kabupaten tersebut. Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi menduga pasukan itu adalah bagian dari TPNPB-OPM.

Akibat serangan itu, tiga prajurit TNI tewas tertembak. Sementara itu, di pihak kelompok bersenjata, TNI menyatakan telah menembak sekitar 10 orang. Namun, hanya satu mayat yang berhasil ditemukan. Mayat lainnya diduga telah dibawa masuk ke hutan. Saat itu, TNI juga menyita lima pucuk senjata api.

4. Seorang anggota TNI bernama Prada Usaman Hambela tewas ditembak kelompok bersenjata di Nduga. Kejadian tersebut terjadi pada 20 Juli 2019 sekitar pukul 14.10 WIT.

Akar konflik di Nduga

Korban kekerasan pasca-operasi keamanan di Nduga mencapai 182 orang. Angka itu diungkap oleh Tim Kemanusiaan Nduga yang melakukan verifikasi sejak Desember 2018 hingga Juli 2019.

"Korban jiwa yang terus bertambah, kami melihat tidak ada untungnya. Justru, korban akan terus berjatuhan dan berdampak merugikan masyarakat sipil, yang sebenarnya tidak tahu masalah apa-apa, ikut menjadi korban," kata Theo Hesegem, Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, di kantor Amnesty International Indonesia, Jakarta, pada Rabu, 14 Agustus 2019.

Menurut laporan itu, 182 korban yang meninggal tersebut terdiri dari 69 laki-laki dewasa, 21 perempuan dewasa, 20 anak laki-laki, dan 21 anak perempuan.

Bahkan, konflik ini juga menewaskan 14 balita perempuan, 12 balita laki-laki, 17 bayi laki laki, dan 8 bayi perempuan. Berdasarkan laporan itu, terlihat bahwa korban yang meninggal didominasi oleh perempuan dan anak-anak, yakni sebanyak 113 orang.

Selain korban meninggal, Theo juga menjelaskan bahwa tim investigasi telah mendata adanya puluhan ribu pengungsi akibat operasi aparat yang mengejar kelompok TPNPB pimpinan Egianus Kogoya. Para pengungsi itu antara lain terdiri dari 4.276 pengungsi di Distrik Mapenduma, 4.369 pengungsi di Distrik Mugi, 5.056 pengungsi di Distrik Jigi, 5.021 pengungsi Distrik Yal, dan 3.775 pengungsi di Distrik Mbulmu Yalma.

Dikutip dari Tabloid Jubi edisi 15 Agustus 2019, konflik bersenjata di Nduga serta gelombang pengungsian ribuan warga sipil yang menghindari konflik itu telah berlangsung selama delapan bulan. Konflik tersebut berawal dari pembunuhan 16 pekerja PT Istaka Karya oleh kelompok bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya pada 2 Desember 2018.

Sejak saat itu, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan operasi untuk mengejar kelompok Egianus Kogoya. Sejak saat itu pula, kabar kematian, penembakan, dan pengungsian terus mewarnai pemberitaan berbagai media di Papua.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, bisa disimpulkan bahwa:

Video yang diklaim berisi penyerangan TNI oleh OPM bukanlah video baru. Isi video tersebut merupakan peristiwa yang terjadi pada Desember 2018, Januari 2019, Maret 2019, dan Juli 2019.

Kontak senjata antara TNI dan TPNPB-OPM merupakan konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan. Konflik itu tidak hanya menelan korban dari kedua belah pihak, melainkan juga warga sipil.

Dengan demikian, narasi yang dibagikan oleh halaman Forum Pecinta TNI AD adalah sesat karena cara penyampaian atau kesimpulannya keliru serta mengarahkan ke tafsir yang salah.

IKA NINGTYAS