Rabu, 14 November 2018

[Fakta atau Hoax] Benarkah ada serbuan tenaga kerja asing asal Cina di kawasan pertambangan Morowali?

Minggu, 19 Agustus 2018 18:48 WIB
 
Share the Facts
5
1
7
Tempo rating logo Tempo Penilaian:
Keliru
Jutaan tenaga kerja asing asal Cina bekerja di kawasan pertambangan Morowali, Sulawesi Tenggara
Jakarta
Sabtu, 14 April, 2018

Isu serbuan tenaga kerja asing (TKA) ke Indonesia telah ramai beredar sejak 2016. Kabar soal jutaan TKA Cina menyerbu Indonesia sampai kini terus ramai beredar di media sosial. Pemerintah dituding sengaja membuka kesempatan bagi TKA untuk bekerja di Indonesia ketika angka pengangguran di dalam negeri masih tinggi.

Penelusuran Tempo menemukan bahwa isu ini bermula dari beredarnya sejumlah video di Youtube. Video itu menggambarkan kedatangan sejumlah warga negara Cina di Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara.

Sejumlah akun Youtube yang mengunggah video kedatangan TKA Cina melalui Bandara Haluleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Youtube

Ada dua video yang berkali-kali diunggah dalam waktu berbeda oleh beragam akun medsos. Video pertama diunggah oleh akun bernama @Alghasali Machfud pada 14 Desember 2015. Dalam video itu, tampak puluhan WNA Cina yang baru keluar dari bandara lalu berkumpul di tempat parkir. Penjelasan dalam video menerangkan bahwa mereka akan  dipekerjakan di PT Sulawesi Mining Investment, salah satu anak usaha PT Bintang Delapan Mineral (BDM) di Morowali, Sulawesi Tengah. Video tersebut telah ditonton oleh 789 viewers dan 32 share Facebook.

Video yang sama diunggah kembali oleh akun 'Berita Terbaru' pada 13 April 2018 dengan caption "Alamak Pekerja Asing Asal Tiongkok Bervisa Turis Banjiri Bandara Haluoleo Sulawesi". Video tersebut ditonton 289 viewer.

Sejumlah akun Youtube yang mengunggah video kedatangan TKA Cina melalui Bandara Haluleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Youtube

Video kedua diunggah oleh akun @Roy Tumpal EMP pada 11 April 2018. Dalam video tersebut tampak sejumlah pria dengan tipikal wajah Cina (sebagian besar laki-laki) di bandara Haluoleo, Kendari, sedang berjalan menuju pintu keluar. Caption yang tertulis adalah "Perpres Tenaga Kerja Asing, resmi ditandatangani Presiden Jokowi, TKA China langsung masuk Indonesia, lewat bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, 1 April 2018." Video ini diihat 279 viewer dengan 11 share Facebook.

Video tersebut kemudian disebarkan via Twitter lewat akun @AsFairus pada 12 April 2018. Video dengan footage serupa sebelumnya telah diunggah pula oleh akun @Wartawan_Jalanan pada 6 Juni 2017 disertai klaim bahwa si pemilik akun menyaksikan sendiri kedatangan para pekerja dari Cina di Bandara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tengah. Video tersebut telah disaksikan 3.306 kali.

Sejumlah akun Youtube yang mengunggah video kedatangan TKA Cina melalui Bandara Haluleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Youtube

Ketika isu ini mulai viral, Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Ronny F. Sompie menanggapinya dengan merilis data jumlah tenaga kerja asing asal Cina di Indonesia. Sesuai data Imigrasi, jumlah tenaga kerja asal Cina di Indonesia adalah 31.030 orang. Jika dibandingkan total jumlah tenaga kerja asing di Indonesia yang sebanyak 160.865 warga negara asing, maka TKA asal Cina hanya sekitar 20 persen saja. Pernyataan Ronny ini dirilis Sabtu, 24 Desember 2016.

Pada awal Juli 2018 lalu, Komisi Tenaga Kerja DPR turun langsung ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri pertambangan nikel terbesar di Indonesia yang terletak di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Rombongan ini dipimpin langsung Ketua Komisi Tenaga Kerja DPR Dede Yusuf.  Usai kunjungan, Dede Yusuf mengungkapkan bahwa memang benar ada TKA Cina yang bekerja di Morowali, namun jumlahnya tak sampai melebihi jumlah tenaga lokal. 

Politikus Demokrat ini menduga banyaknya isu soal serbuan tenaga kerja asing ini muncul ketika kawasan tambang nikel baru mulai dibangun pada 2014 silam. "Pada fase pembangunan smelter, TKA yang masuk-keluar dengan kontrak per 2-3 bulan memang banyak. Soalnya, saat itu Indonesia memang belum berpengalaman membangun smelter," kata Dede Yusuf. "Setelah smelter berdiri dan kawasan industri pengolahan nikel beroperasi penuh, hanya 10 persen TKA yang tinggal untuk meneruskan transfer teknologi kepada pekerja lokal," katanya. 

Kegiatan pekerja di Indonesia Morowali Industrial Park pada Senin-Selasa, 6-7 Agustus 2018, Morowali, Sulawesi Tengah. TEMPO/Kartika Anggraeni

Pada awal Agustus 2018 lalu, Tempo juga berkesempatan mengunjungi kawasan tambang di Morowali itu. Di sana, Tempo bisa melihat jelas lebih banyak warga Indonesia yang terlihat berlalu lalang terutama di jam pergantian piket (shift). Para TKA terlihat bertugas sebagai sopir mobil pengangkut nikel yang setirnya berada di kiri. Tenaga kerja Indonesia tak dipekerjakan di bagian ini karena tak terbiasa dengan kendaraan yang memakai setir kiri. TKA juga banyak terlihat di ruangan control room.

Direktur Utama PT IMIP Alexander Barus mengatakan memang kebanyakan TKA di perusahaannya memang berada di level 3-4, yaitu setingkat manajer dan direksi. Sementara, tenaga kerja Indonesia memang sebagian besar berada di level 1-2, yaitu setingkat dengan kru atau pekerja di lapangan.

Kegiatan pekerja di Indonesia Morowali Industrial Park pada Senin-Selasa, 6-7 Agustus 2018, Morowali, Sulawesi Tengah. TEMPO/Kartika Anggraeni

Berdasarkan data yang diperoleh Tempo, jumlah TKA di kawasan IMIP saat ini sekitar 3.121 orang dari total pekerja 28.568 orang. TKA tersebut terbagi menjadi dua jenis, yaitu TKA yang bekerja sebagai kontraktor dan TKA yang bekerja di bidang operasional. Sementara tenaga kerja Indonesia berjumlah 25.447 orang.

Alexander Barus menegaskan bahwa perusahaannya berkomitmen untuk terus mengurangi jumlah TKA yang bekerja di IMIP. Salah satu caranya adalah memberlakukan sistem tandem. Sistem ini dimaksudkan agar ada transfer ilmu antara TKA dan pekerja lokal. "Kami tandemkan, satu Cina satu Indonesia. Kalau sudah bisa, orang Cina nanti keluar dan digantikan Indonesia," ujar Alexander.

Karena itu, TKA yang sudah habis kontraknya akan langsung kembali ke negaranya. Misalnya TKA yang bekerja sebagai kontraktor. "Yang tinggal agak lama itu yang TKA bagian operasional," kata Alexander. Bagian operasional yang dimaksud adalah pekerja yang menangani control room atau operasional mesin.

Selain itu, Alex mengatakan saat ini perusahaannya sudah mulai menggantikan tenaga teknis TKA di lapangan dengan tenaga kerja Indonesia. Namun, ia menjelaskan ada beberapa pekerjaan yang memang belum memungkinkan untuk mengganti TKA dengan tenaga kerja Indonesia. "Salah satunya itu seperti yang berhubungan dengan furnace, kan itu panas sekali. Nah orang kita belum bisa tahan dekat-dekat dengan furnace itu," ujarnya.

KARTIKA ANGGRAENI | NINIS CHAIRUNISSA

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

 

  •