Minggu, 19 Agustus 2018

[Fakta atau Hoax] Benarkah Bendera Israel Dikibarkan Sion Kid Center di Jayapura, Papua?

Rabu, 23 Mei 2018 07:58 WIB [Fakta atau Hoax] Benarkah Bendera Israel Dikibarkan Sion Kid Center di Jayapura, Papua?

Sebuah video konvoi kendaraan bermotor membawa bendera Israel di Jayapura menjadi viral di media sosial sejak Rabu 16 Mei 2018. Video berdurasi 1 menit 1 detik itu antara lain diunggah di Youtube, Facebook, Instagram serta menyebar lewat WhatsApp.

 

Di dalam video, nampak iring-iringan kendaraan mulai truk, mobil pribadi, pikap dan bus dengan penumpang yang mengibarkan sejumlah bendera Israel.  

 

Baca juga:  Ribuan Warga Makassar Injak Bendera Israel

 

Salah satu penyebar awal di Instagram video konvoi bendera Israel di Papua. Foto/Istimewa

 

Tidak ada keterangan kapan pawai itu berlangsung. Sejumlah postingan di media sosial menyebutkan bahwa konvoi itu terjadi di Jayapura, 14 Mei 2018.

 

Video kedua yang juga viral berdurasi 2 menit 15 detik, menggambarkan perayaan di sebuah gedung oleh ratusan orang Papua. Mereka nampak sedang menyanyi dan menari dengan membawa bendera Israel.

 

Baca juga: Hidayat Nur Wahid: Banyak Bendera Israel di Tolikara

 

Video pertama dibagikan pertama kali di Instagram oleh akun Ulfazulma pada Rabu 16 Mei pukul 04.02 AM. 

Salah satu penyebar awal di Youtube video konvoi bendera Israel di Papua. Foto/Istimewa

 

Video tersebut telah ditonton 19.108 kali dan kemudian banyak dikutip oleh sejumlah akun di Facebook. Selain video konvoi kendaraan, akun Ulfazulma juga membagikan dua video lain yang menggambarkan konvoi warga dengan bersepeda motor serta aksi longmarch ratusan orang sambil membawa bendera Israel.

 

Di Youtube, video pertama kali diunggah oleh akun Youtube Info pada 16 Mei 2018 pukul 05.47 WIB. Hingga Kamis sore, 17 Mei 2018, video ini telah ditonton 4.096 kali.

 

Baca juga: Bendera Israel Digilas Ratusan Mobil di Bandung

 

Benarkah video itu merupakan konvoi pada 14 Mei 2018?

 Dengan menggunakan sejumlah tools cek fakta, tidak ditemukan video yang sama yang terbit sebelum tanggal 16 Mei 2018.

 

Konvoi Komunitas Sion Kids Center of Papua 14 Mei 2016. Foto/Istimewa

 

Di Facebook, redaksi menemukan grup Facebook Sion Kid Center (Movement), yang menggelar Kebaktian Budaya Bangsa ke-12 Se-Pulau dan Tanah Papua pada 12-14 Mei 2018.

 

Kebaktian tersebut bertemakan: “Doa Buat Damai di Jerussalem” dengan menghadirkan pembicara Pendeta Marhen Su. S. Th, pendiri komunitas Sion Kids Center of Papua.

 

Dari foto-foto kegiatan yang diunggah di halaman FB tersebut, nampak dekorasi dan banner acara kebaktian tersebut sama dengan video kedua yang menjadi viral yang bertuliskan “Doa Buat Damai di Yerussalem”. Interior gedung GOR Kotaraja di foto juga sama dengan video yang beredar.

 

Dengan demikian dipastikan bahwa video viral kedua adalah acara Kebangkitan Budaya Bangsa ke-12 yang digelar komunitas Sion Kids Center of Papua pada 11-14 Mei 2018.

 

Poster acara kebaktian komunitas Sion Kids Center of Papua 11-14 Mei 2018. Foto/Istimewa

Dari sejumlah penelusuran, komunitas Sion Kids Center of Papua sebelumnya pernah melakukan konvoi dan perayaan hari jadi Israel di Jayapura pada 14 Mei 2011 dan 14 Mei 2016.

 

Sejumlah akun bahkan mengunggah video di Youtube mangenai suasana pada 14 Mei 2016 mulai dari longmarch ribuan jamaat hingga kebaktian di dalam gedung yang penuh dengan bendera Israel.

Simak juga: Aktivis KAMMI Jember Bakar Bendera Israel

 

Bendera-bendera Israel yang muncul dalam video dan foto memang menjadi atribut yang dibawa Komunitas Sion Kids of Papua dalam puncak kebaktian tahunan mereka setiap 14 Mei. Tanggal ini dikenal sebagai hari jadi Israel.

 

Dalam laman Sion Kids Center of Papua di Google+ dan Facebook, diketahui, bahwa komunitas ini telah berdiri di Kota Jayapura, Abepura pada 14 Mei 2006.

 

Gedung pelaksanaan kebaktian Komunitas Sion Kids Center of Papua yang sama dengan video kedua. Dok: Istimewa

 

Sion Kids adalah pergerakan roh kudus yang muncul di akhir zaman dalam rangka menggenapi kebenaran firman Tuhan untuk berdiri dan berdoa bagi Bangsa Israel, serta mengembalikan firman Tuhan kembali kepada tempat dimana Injil itu pertama kali muncul.

 

Menurut pendiri Sion Kids Papua, Ev. Marthen Su. S. Th, Sion Kids bukan gereja baru melainkan komunitas bagi orang-orang yang mau memahami hubungan kebangsaan antara Israel dan Papua.

 

“Hal itu dalam rangka memenuhi penggenapan janji Tuhan atas Israel dan Papua berdasarkan nubuatan para nabi dan pengajaran para Rasul tentang Sion - Yerussalem - Israel - dan bangsa-bangsa di dunia,” kata Marthen kepada suarapapua.com, 12 Maret 2015.

 

Kapolda Papua Inspektur Jenderal Boy Rafli mengatakan bahwa konvoi anggota komunitas Sion Kids Center of Papua yang membawa bendera Israel  pada 14 Mei 2018, tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian. 

 

"Tidak ada izin dari kepolisian," ujar Boy kepada Tempo melalui pesan singkat pada Selasa, 22 Mei 2018.  Polisi, kata Boy, bahkan tidak mendapat pemberitahuan mengenai aksi konvoi tersebut.

 

Bendera Israel yang menajdi atribut kebaktian komunitas Sion Kids Center of Papua. Dok/Istimewa

Pasca konvoi itu, polisi telah memanggil penanggung jawab kegiatan yakni Ketua Komisi Dewan Perwakilan Daerah Papua (DPRP) Ruben Magai untuk dimintai keterangan. Ruben, kata Boy, sudah menjelaskan giat rangkaian ibadah tersebut dan berjanji tidak akan melaksanakan konvoi lagi. Konvoi dilakukan oleh peserta menuju tempat perayaan dan ibadah. 

 

Ia pun menolak jika menyebut massa konvoi mengibarkan bendera Israel. "Yang ada membawa bendera saja," ujar Boy.

 

Peserta aksi solidaritas untuk Palestina membakar bendera Israel dan Amerika saat berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, 15 Desember 2017. Aksi tersebut menyerukan pembelaan untuk Palestina dan mengecam pengakuan sepihak Presiden Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

 

Aktivis Toleransi dan Kemanusiaan Natalius Pigai melihat pengibaran benderan Israel memang sangat sensitif. Oleh karena itu, pengibaran bendera Israel tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang politik saja.

 

"Pemerintah dan polisi tidak bisa melarang lambang tauhid umat Kristen  yang tertulis dalam kita suci Alkitab, karena itu sama saja dengan melarang ajaran agama yang diyakini," kata dia dalam keterangan tertulis, pada 22 Mei 2018.

 

IKA NINGTYAS | ANDITA RAHMA | UWD

Anda punya data/informasi berbeda,  kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini?  Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id 

 

 

 

  •