[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mata Bocah Ini Harus Dioperasi Akibat Kecanduan Gadget?

Rabu, 2 September 2020 19:54 WIB

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mata Bocah Ini Harus Dioperasi Akibat Kecanduan Gadget?

Kisah tentang seorang bocah Thailand berusia 4 tahun yang menderita mata malas sehingga harus dioperasi akibat kecanduan gadget beredar di internet dalam beberapa hari terakhir. Kisah ini dilengkapi dengan sebuah foto bocah perempuan yang matanya tengah mendapatkan perawatan.

Bocah itu disebut sebagai putri dari warga Bangkok pemilik akun Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang. Dalam unggahannya di Facebook, Dachar bercerita bahwa ia telah mengenalkan gadget, terutama ponsel dan iPad, kepada putrinya sejak usianya masih 2 tahun.

Menurut Dachar, pola asuh ini membuat putrinya kecanduan gadget. Jika tidak diizinkan bermain gadget, sang putri akan kesal, marah, hingga menjerit-jerit. Karena tidak tahan dan agar tidak mengganggu aktivitasnya, Dachar pun akhirnya memberikan gadget kepada putrinya.

Namun kini, kondisi putrinya membuat Dachar menyesal. Sang putri divonis dokter menderita mata malas dengan satu mata miring atau juling, salah satu komplikasi paling serius dari miopi dan astigmatisme. Akibatnya, di usia yang masih begitu muda, mata putri Dachar harus dioperasi.

Bagaimana kebenaran kisah yang menimpa bocah Thailand tersebut?

Advertising
Advertising

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi kisah di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto yang menyertai kisah tersebut dengan reverse image tool Source dan Google. Hasilnya, ditemukan bahwa foto tersebut memang diunggah pertama kali oleh akun Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang, tepatnya pada 2 November 2018. Dachar bercerita bahwa putrinya mengalami gangguan penglihatan hingga harus dioperasi akibat kecanduan gadget.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Dachar Nuysticker Chuayduang.

Kisah ini pun dikutip oleh banyak media, baik media lokal Thailand maupun media luar. Situs media Thailand Chiang Mai News misalnya, pernah memuat kisah itu dalam artikelnya pada 4 November 2018. Terdapat pula foto-foto yang diunggah oleh Dachar dalam artikel yang berjudul "Seorang ayah mengunggah pengingat, biarkan anak berusia 4 tahun memainkan ponsel dalam waktu yang lama hingga membutuhkan operasi mata" tersebut.

Situs parenting The Asian Parent juga pernah memuat kisah tersebut dalam artikelnya yang berjudul "Gadis Kecil Menderita Masalah Penglihatan Setelah Penggunaan Ponsel dalam Waktu Lama". The Asian Parent pun mewawancarai profesor pediatri Rawat Sichangsirikarn untuk mendapatkan penjelasan terkait gangguan penglihatan yang dialami putri Dachar.

Menurut Sichangsirikarn, merupakan hal yang sangat serius ketika orang tua mengizinkan anak mereka yang masih kecil menggunakan teknologi seperti ponsel pintar dan tablet dalam jangka waktu yang lama. Paparan layar gadget yang berlebihan dapat berdampak serius terhadap kesehatan fisik dan mental anak. Menggunakan aplikasi yang tidak dikenal dan memiliki kebebasan tanpa batas ke internet juga bisa membahayakan anak.

Dilansir dari World of Buzz, dokter mengatakan bahwa putri Dachar mengalami kehilangan penglihatan atau mata malas, di mana mata tidak bisa bekerja secara bersamaan karena satu mata bekerja lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Akibatnya, dia tidak hanya memiliki gangguan penglihatan tapi juga mata yang juling.

Setelah operasi yang berlangsung pada 31 Oktober 2018, putri Dachar akhirnya bisa menggunakan kedua matanya secara bersamaan. Namun, bocah itu tidak diperbolehkan menggunakan ponsel, iPad, dan komputer, bahkan menonton televisi. Cahaya yang dipancarkan dari alat-alat tersebut merupakan penyebab utama putri Dachar kehilangan penglihatannya.

Dilansir dari Kompas.com, salah satu dampak buruk dari kecanduan gadget pada anak adalah mata menjadi juling. Menurut hasil penelitian di Korea Selatan, anak-anak yang sering menggunakan ponsel pintar atau tablet berisiko besar mengalami mata juling sementara.

Dalam penelitian itu, dilibatkan 12 anak berusia 7-16 tahun yang menggunakan gawainya sekitar 4-8 jam setiap hari. Anak-anak itu juga memegang gawainya dengan jarak 20-30 cm dari wajahnya. Selain durasi pemakaian yang terlalu sering, jarak yang terlalu dekat dengan mata kemungkinan menjadi penyebab juling atau mata yang tidak searah.

Terapi medis memang bisa memperbaiki gangguan mata pada sembilan anak, namun setelah mereka tidak lagi menggunakan ponsel pintar selama dua bulan. Mereka juga disarankan membatasi memakai gadget setiap 30 menit sekali dan mengatur jarak penglihatan.

Berdasarkan arsip berita Tempo pada 15 Agustus 2018, penelitian dari Universitas Toledo Amerika Serikat mengungkapkan cahaya biru dari ponsel dapat menyebabkan kebutaan. Studi tersebut menemukan bahwa cahaya biru menimbulkan reaksi racun dalam molekul retina yang merasakan cahaya dan sinyal otak.

Akibatnya, reaksi kimia beracun itu membunuh fotoreseptor mata dan tidak dapat dipulihkan sampai mati. Untuk menghindari masalah yang serius, sebaiknya segera selamatkan mata dari cahaya ponsel dengan beberapa cara mudah berikut:

  • Istirahatkan mata sejenak
  • Lebih sering berkedip
  • Turunkan cahaya
  • Beri jarak antara mata dan ponsel
  • Matikan ponsel sebelum tidur
  • Atur kecerahan dan kontras layar
  • Percikkan mata dengan air

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa mata bocah 4 tahun di Thailand tersebut harus dioperasi akibat kecanduan gadget, benar. Dokter mengatakan bahwa bocah itu mengalami mata malas, di mana mata tidak bisa bekerja secara bersamaan karena satu mata bekerja lebih efektif dibandingkan dengan yang lain. Akibatnya, dia tidak hanya memiliki gangguan penglihatan tapi juga mata yang juling. Setelah operasi pada 31 Oktober 2018, bocah itu akhirnya bisa menggunakan kedua matanya secara bersamaan. Selain itu, menurut hasil penelitian di Korea Selatan, anak-anak yang sering menggunakan ponsel pintar atau tablet berisiko besar mengalami mata juling sementara.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id