[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mantan Rektor Unhas Ini Sebut Covid-19 Bisa Disembuhkan dengan Minyak Kayu Putih?

Sabtu, 30 Mei 2020 12:29 WIB

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mantan Rektor Unhas Ini Sebut Covid-19 Bisa Disembuhkan dengan Minyak Kayu Putih?

Sebuah video yang diklaim sebagai video mantan pasien Covid-19 yang menyebut Covid-19 dapat disembuhkan dengan minyak kayu putih beredar di media sosial. Mantan pasien itu tak lain adalah mantan Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Idrus Paturusi.

Di Facebook, video itu diunggah salah satunya oleh akun Sujito Wiratmo, yakni pada 27 Mei 2020. Akun ini memberikan narasi, "Ternyata Covid bisa sembuh dengan minyak kayu putih sebarkan seluas luasnya pada umat manusia." Dalam video berdurasi 2 menit 50 detik ini, Idrus menceritakan bagaimana ia berhasil sembuh dari penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru, SARS-CoV-2, tersebut. Berikut pernyataannya:

"Yang saya ingin tambahkan juga adalah suplemen, yang juga itu sebetulnya dari nenek-nenek kita itu sudah diajarkan, yaitu minyak kayu putih. Minyak kayu putih itu, Eucalyptus oil, itu sebetulnya, kalau dulu kita flu, orang tua kita kasih minyak kayu putih di air hangat, kemudian kita kasih sarung, disungkep, itu satu hari langsung segar. Pada hari kedua, saya diminta dokter Arif untuk swab. Masih positif. Tambah stres juga saya ya. Dua hari setelah saya di-opname, karena protokolnya itu setiap dua hari dilakukan swab. Positif. Nah, tiba-tiba saya ditelepon seorang kolega, coba itu minyak kayu putih. Nah, minyak kayu putih saya ingat bagaimana pada waktu kita kecil, keluarga, dan itu kan banyak, di mana-mana ada. Karena kami sudah terbiasa dengan minyak kayu putih, kebetulan istri saya, yang juga, saya bersyukur istri saya mau menemani di ruang isolasi sehingga stres saya kurang. Tidak banyak orang yang saya kira punya istri seperti itu yang mau katakanlah sehidup-semati. Karena kita kan belum tahu apakah selamat atau tidak. Dan banyak orang yang mengatakan, 'Saya negatif, kalau saya masuk, nanti positif'. Tapi Alhamdulillah, masuk. Nah, ada minyak kayu putih. Ini yang ingin saya terangkan, bagaimana penggunaan minyak kayu putih. Jadi, minyak kayu putih ini sebetulnya mudah."

Selanjutnya, Idrus mempraktekkan bagaimana ia menggunakan minyak kayu putih, yakni dengan menuangkan beberapa tetes minyak pada tisu, kemudian dimasukkan ke bagian dalam masker agar bisa dihirup. "Coba lihat, virus Covid itu tempatnya di saluran nafas, mulai dari saluran nafas bagian atas sampai ke paru-paru," katanya. Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah dibagikan lebih dari 4.700 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Sujito Wiratmo.

Advertising
Advertising

PEMERIKSAAN FAKTA

Tim CekFakta Tempo mula-mula mencari video asli dari video yang diunggah oleh akun Sujito Wiratmo tersebut. Caranya, video itu difragmentasi menjadi beberapa gambar dengan tool InVID. Kemudian, gambar-gambar tersebut ditelusuri dengan reverse image tool Google.

Hasilnya, video itu pertama kali diunggah oleh kanal YouTube Das’ad Latief pada 21 Mei 2020 dengan judul "Prof. Idrus Paturusi Tips Menjaga Kesehatan Selama Wabah Corona Bersama Ustad Das'ad Latif". Video ini berdurasi 45 menit 4 detik, jauh lebih panjang ketimbang video unggahan akun Sujito Wiratmo.

Video unggahan akun Sujito Wiratmo pun tidak memuat secara utuh pernyataan Idrus. Dalam pernyataannya, Idrus mengatakan bahwa efektivitas minyak kayu putih dalam mengobati Covid-19 masih perlu diteliti lebih lanjut. Berikut kelanjutaan pernyataan Idrus yang terekam pada video kanal Das'ad Latief menit 9:10 hingga 10:12:

"Kalau kita isap, inspirasi, itu aroma minyak kayu putih sampai ke paru-paru. Logikanya, kalau ada virus di situ, kita lihat, virus itu kan pakai deterjen aja mati, sedangkan minyak kayu putih kita hirup sampai ke dalam, diharapkan bahwa semua yang tinggal, mulai dari saluran nafas, itu digilas. Tentu ini memerlukan penelitian. Saya hanya mengatakan bahwa pengalaman dan setelah beberapa teman saya anjurkan menggunakan, dan dokter Arif sekarang sedang melakukan uji kasus, yang sebentar barangkali beliau akan sampaikan. Karena kita harus berdasarkan saintifik bahwa ini memang bisa. Tapi saya kira karena ini adalah herbal, natural, tidak perlu approval dari FDA (Food and Drug Administration) karena dari dulu kita sudah pakai. Nah, sekarang, minyak kayu putih itu punya efek. Yang pertama, anti-inflamasi. Itu peradangan. Yang kedua, membunuh bakteri. Yang ketiga, membunuh virus. Saya kontak dengan Menteri Pertanian beberapa hari yang lalu. Karena rupanya, di Balitbang Kementerian Pertanian, mereka sudah produksi minyak kayu putih yang asli. Nah, ini yang kita mau, kalau produknya sudah ada, nanti kita barangkali gunakan sebagai uji coba untuk uji klinis, apakah itu memang berdampak positif terhadap virus itu atau bagaimana. Oleh karena, penelitian yang ada di Balitbang, mereka sudah punya virus influenza dulu, mereka sudah punya virus flu burung. Itu mereka sudah coba kultur, dan kemudian dikasih minyak kayu putih, mati itu virus. Nah, sekarang, apakah sudah bisa Covid-19 ini dikultur?"

Minyak kayu putih untuk Covid-19

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo pada 14 Mei 2020, senyawa eucalyptol atau 1,8-cineole menjadi komponen kunci dari potensi antivirus Corona yang dimiliki eukaliptus (Eucalyptus sp.). Eucalyptus merupakan tanaman yang menjadi bahan dasar pembuatan minyak kayu putih.

Senyawa tersebut telah diuji di laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian dan menunjukkan kemampuan membunuh sekitar 80 persen virus, termasuk virus Corona. Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry, menerangkan bahwa proses uji diawali dengan mencari kecocokan antara bahan aktif dan potensi membunuh virus dari sekian banyak minyak atsiri yang ada.

Proses uji ini dilakukan dengan cara penambatan molekul atau molecular docking melalui metode komputasi. "Dari sekian banyak minyak atsiri, salah satunya adalah minyak atsiri Eucalyptus yang di dunia ada 700 spesies," katanya pada 11 Mei 2020.

Proses uji mencari kecocokan melalui molecular docking itu dilanjutkan dengan uji in vitro di laboratorium Biosafety Level 3 (BSL-3). Senyawa aktif Eucalyptus bisa membunuh sekitar 80 persen virus seperti yang sudah diumumkannya beberapa hari sebelumnya.

Pada 5 Mei 2020, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) Kementan, Evi Safitri, memang menyatakan, "Hasil uji in vitro, 60-80 persen virusnya mati. Tapi memang virusnya bukan (penyebab) Covid-19, kami coba ke virus Corona lain." Evi menerangkan, molecular docking adalah metode komputasi yang bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in vitro.

Menurut Evi, Balitro mencoba meneliti sejumlah tanaman rempah dan obat untuk digunakan dalam mengatasi Covid-19. Beberapa di antaranya adalah jahe merah, kunyit, temulawak, kayu manis, cengkeh, kulit jeruk, jambu biji, meniran, sambiloto, seraiwangi, eukaliptus, kayu putih, serta minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO).

Dilansir dari Kompas.com, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania, mengatakan bahwa Eucalyptus memang memiliki sejumlah zat aktif yang bersifat antibakteri, antivirus, dan antijamur.

"Memang pernah ada penelitian Eucalyptus efektif untuk membunuh virus Betacorona, tapi bukan virusnya Covid-19, SARS-CoV-2," kata Inggrid pada 9 Mei 2020. Inggrid menjelaskan virus Corona yang mewabah saat ini memang termasuk dalam keluarga virus Betacorona. "Tapi SARS-CoV-2 termasuk Betacorona yang lebih baru dan khusus. Jadi, penelitiannya itu bersifat in vitro, (Eucalyptus) membunuh virus Betacorona. Tapi baru sebatas itu."

Selain itu, Inggrid juga mengungkapkan bahwa terdapat penelitian bioinformatika tentang efek zat aktif Eucalyptus terhadap SARS-CoV-2. Kendati demikian, penelitian ini hanya berupa molekular docking atau simulasi di komputer. Simulasi tersebut dilakukan dengan menyamakan molekul zat aktif pada Eucalyptus dengan molekul protein SARS-CoV-2. "Memang kalau dari penelitian bioinformatika itu ada kecocokan dan bisa dijadikan kandidat (obat antivirus). Tapi kalau disebut sebagai obat antivirus Covid-19, belum bisa," kata Inggrid.

Selama ini, menurut Inggrid, Eucalyptus atau minyak kayu putih tidak untuk diminum atau pemakaian dalam. Sebagian besar minyak atsiri ini pemakaiannya dioles atau dihirup. "Mirip kalau kita flu, Eucalyptus yang dibuat sebagai inhaler, harapannya zat aktif yang ada pada minyak ini dapat dihirup, masuk ke saluran pernapasan dan diharapkan dapat membunuh virus," ujar Inggrid.

Kendati demikian, Inggrid kembali mengingatkan bahwa Eucalyptus belum bisa dianggap sebagai obat untuk virus Corona penyebab Covid-19. "Harus diujikan dulu pada virus yang spesifik, yaitu SARS-CoV-2. Sedangkan penelitian yang sudah ada itu di Betacorona. Jadi, semua masih berupa prediksi dan Eucalyptus belum bisa disebut sebagai obat Covid-19," kata Inggrid.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa mantan pasien Covid-19, Idrus Paturusi, menyebut Covid-19 bisa disembuhkan dengan minyak kayu putih menyesatkan. Video unggahan akun Sujito Wiratmo tidak memuat secara utuh pernyataan Idrus. Dalam pernyataannya, Idrus mengatakan bahwa efektivitas minyak kayu putih dalam mengobati Covid-19 masih perlu diteliti lebih lanjut. Sejauh ini, penelitian menunjukkan bahwa Eucalyptus, tanaman yang menjadi bahan baku minyak kayu putih, memang efektif membunuh virus Corona. Namun, penelitian itu tidak melibatkan virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, melainkan virus Corona jenis lain. Dengan demikian, Eucalyptus belum bisa disebut sebagai obat Covid-19.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekf akta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id