[Fakta atau Hoaks] Benarkah FPI Masuk Wamena untuk Turunkan Bintang Kejora dan Kibarkan Merah Putih?

Selasa, 8 Oktober 2019 17:29 WIB

[Fakta atau Hoaks] Benarkah FPI Masuk Wamena untuk Turunkan Bintang Kejora dan Kibarkan Merah Putih?

Sebuah video pendek dan foto yang diklaim sebagai aksi jihad Front Pembela Islam atau FPI untuk melindungi warga pendatang di Wamena, Jayawijaya, Papua, beredar di aplikasi pesan WhatsApp dalam beberapa hari terakhir. Informasi itu diterima Tempo pada Senin, 7 Oktober 2019.

Video berdurasi 15 detik itu berisikan unjuk rasa sebuah kelompok Muslim yang disertai dengan pembakaran bendera yang menjadi simbol Organisasi Papua Merdeka, bendera Bintang Kejora. Sementara dalam foto itu tampak sejumlah pria yang sedang mempersiapkan sebuah posko bertuliskan “Posko Jihad Wamena (Bela Negara)”.

Gambar tangkapan layar video yang (kiri) dan foto (kanan) yang disebut sebagai aksi jihad Front Pembela Islam atau FPI untuk melindungi warga pendatang di Wamena, Jayawijaya, Papua.

Video dan foto itu disebar dengan narasi, "FPI sudah masuk Wamena utk mengibarkan bendera Merah Putih, menurunkan bendera Bintang Kejora, melindungi warga pendatang yg dibantai dan diusir. Luar biasa. Semoga yg sering teriak jagoan NKRI dsb berani berbuat yg sama."

Dalam pencarian dengan kata kunci “FPI sudah masuk Wamena”, Tempo menemukan sejumlah video sejenis di YouTube. Salah satu kanal yang mengunggahnya adalah Bela Ulama, tapi dengan durasi video yang sedikit lebih panjang, yakni 40 detik. Dalam sehari, video tersebut telah ditonton hingga 1.388 kali.

Advertising
Advertising

Selain Bela Ulama, kanal lain yang mengunggah video itu adalah Sapu Rata. S dengan judul yang lebih provokatif, yakni "Heboh!! Seruan Fpi Bakar Bendera Bintang Kejora Lawan Pemberontak di Wamena Papua". Dalam dua hari, video itu telah ditonton hingga 1.842 kali.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk mengetahui lokasi asli unjuk rasa FPI dalam video yang beredar itu, Tim CekFakta Tempo terlebih dahulu mencari video dalam versi yang lebih panjang. Setelah Tempo memasukkan kata kunci “FPI bakar bendera Bintang Kejora” di YouTube, muncul sejumlah video dalam durasi yang lebih lama.

Tempo menonton secara utuh video berdurasi 22 menit 21 detik yang diunggah kanal Berita Viral Komedi Hiburan Olahraga DLL pada Jumat, 4 Oktober 2019. Video itu telah ditonton sebanyak 1.300 kali hingga Selasa, 8 Oktober 2019.

Rupanya, video versi pendek yang tersebar di WhatsApp diambil dari video itu pada detik ke-50, tepat saat orator unjuk rasa berkata, “Jika hari ini Merah Putih tidak bisa berkibar dengan gagah di Wamena..."

Gambar yang terlihat dalam video itu pun sama dengan video versi pendek yang tersebar di WhatsApp. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa video yang diunggah Berita Viral Komedi Hiburan Olahraga DLL di YouTube adalah versi panjang dari video unjuk rasa FPI terkait Wamena yang tersebar di WhatsApp.

Berikutnya, melalui video versi panjang itu, Tempo menemukan petunjuk mengenai lokasi asli unjuk rasa dalam video yang beredar itu. Pada menit 3:40, orator menyatakan, “Silahkan melanjutkan perjalanan menuju Kantor Bupati Poso. Di sana, kita akan menyampaikan aspirasi dan orasi."

Untuk memastikan bahwa unjuk rasa itu benar-benar terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, Tempo menggunakan petunjuk berupa sebuah gedung bercat putih di dekat tempat berlangsungnya unjuk rasa dan sebuah tugu bercat kuning-merah yang terlihat pada menit 3:27.

Dalam pencarian di Google Maps dengan kata kunci “Tugu di Kabupaten Poso”, Tempo menemukan foto tugu yang identik dengan tugu dalam video. Tugu tersebut bernama Tugu Nol Kilometer. Melalui street view yang tersedia, di depan tugu itu berdiri gedung Kejaksaan Negeri Poso, yang arsitektur, warna dinding, dan atapnya sama dengan gedung bercat putih di dekat tempat berlangsungnya unjuk rasa.

Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa unjuk rasa ini terjadi di Poso, bukan di Wamena.

Gambar tangkapan layar Google Street View yang memperlihatkan Gedung Kejaksaan Negeri Poso (kiri) dan Tugu Nol Kilometer (kanan).

Tempo kemudian menelusuri arsip pemberitaan mengenai aksi FPI di Poso. Salah satu arsip mengenai aksi tersebut bisa ditemukan di kanal FPI di aplikasi pesan Telegram yang bernama Front Poso Media. Dalam kanal tersebut, FPI mengunggah undangan kepada masyarakat untuk mengikuti Aksi Peduli Papua pada 4 Oktober 2019 pukul 13.00 WITA. Sejumlah foto aksi juga diunggah dalam kanal tersebut.

Terkait foto posko jihad

Bagaimana dengan foto yang memperlihatkan sebuah posko dengan tulisan “Posko Jihad Wamena (Bela Negara)”? Tempo memperoleh petunjuk dari spanduk yang terlihat pada bagian kanan bawah foto. Dalam spanduk itu, tertulis alamat sekretariat yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah.

Tempo kemudian menelusuri arsip video dengan memasukkan kata kunci “Aksi FPI di Karanganyar” di YouTube. Hasilnya, muncul video berjudul “Muslim Surakarta dan Karanganyar Siap Berangkatkan Pasukan Mujahid Ke Wamena, Papua” yang dipublikasikan di kanal MTATV. MTA TV adalah media dakwah milik Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur'an, sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah.

Dalam video itu, gambar yang memperlihatkan posko yang sama dengan posko yang ada dalam foto yang tersebar di WhatsApp dimulai pada menit 2:04. Aksi tersebut sama dengan aksi FPI di Poso yang disertai dengan membakar bendera Bintang Kejora dan mengutuk terjadinya kerusuhan di Wamena yang menyebabkan 33 orang meninggal dan ribuan warga mengungsi.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, aksi dalam video yang disebut sebagai aksi FPI di Wamena untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan menurunkan bendera Bintang Kejora terjadi di Poso, bukan di Wamena. Sementara posko bertuliskan “Posko Jihad Wamena (Bela Negara)” adalah posko yang dibuat dalam aksi di Karanganyar pada hari yang sama. Dengan demikian, pesan berantai di WhatsApp yang dilengkapi dengan video dan foto yang diklaim sebagai aksi jihad Front Pembela Islam atau FPI untuk melindungi warga pendatang di Wamena adalah sesat.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id