[Fakta atau Hoaks] Apakah Naiknya Ikan ke Permukaan Berkaitan dengan Gempa dan Tsunami?

Jumat, 2 Agustus 2019 18:02 WIB

[Fakta atau Hoaks] Apakah Naiknya Ikan ke Permukaan Berkaitan dengan Gempa dan Tsunami?

Sebuah video yang mengaitkan munculnya ikan di permukaan dengan peristiwa gempa dan tsunami beredar di media sosial dalam tiga hari terakhir.

Di WhatsApp, video itu berdurasi 33 detik. Isinya menampakkan ribuan ikan beraneka jenis dan ukuran muncul di permukaan laut yang penuh dengan kapal-kapal nelayan.

Dari balik video itu, terdengar suara seorang pria, “Ya Allah, Iwak (ikan). Bagaimana ini?”

Lalu pria lainnya menjawab, “O, kaget kena gempa itu.”

Dengan versi sedikit berbeda, video sejenis diunggah di akun Abu Dahrin di YouTube pada 29 Juli 2019. Video berdurasi 2 menit dengan latar suara rebana, juga menampakkan ikan-ikan di permukaan di antara kapal.

Video yang viral di YouTube menunjukkan ikan-ikan berenang di dekat dermaga.

Akun Abu Dahrin, memberi judul pada videonya: “Ikan minggi di Pantai Muncar (semoga ini pertanda baik dan keberkahan, bukan tanda tsunami).

Selain judul yang mengaitkan dengan tsunami, akun Abu Dahrin, menambahkan berita yang dikutip dari Antara edisi 17 Juli 2019 mengenai potensi gempa 8,8 SR dan tsunami dahsyat 20 Meter di laut selatan.

Artikel ini akan memeriksa dua hal: pertama, apakah ikan-ikan yang muncul di permukaan laut Muncar itu terkait dengan gempa? Dan kedua, apakah perilaku ikan bisa menjadi pertanda gempa atau tsunami?

PEMERIKSAAN FAKTA

Muncar adalah pelabuhan ikan yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pelabuhan Muncar menjadi penghasil ikan laut terbesar kedua setelah Bagan Siapi-api.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo, mengatakan dia sudah mengirimkan staf untuk mengecek kebenaran video itu di lapangan. Hasilnya, kata dia, peristiwa itu terjadi pada 28 Juli 2019. “Tapi bukan karena gempa,” kata Hary dikonfirmasi melalui telepon, Jumat, 2 Agustus 2019.

Hary menjelaskan, kejadian tersebut terjadi di Pelabuhan Muncar. Di sekitar dermaga, ada kapal yang tenggelam termasuk menenggelamkan ikan-ikan kecil hasil tangkapan dalam kapal itu.

Akibatnya, ikan yang tenggelam tersebut membusuk, lalu mengakibatkan ikan-ikan yang hidup di sekitarnya mabuk. Ikan yang mabuk inilah yang muncul ke permukaan laut. “Areal yang terdampak itu sekitar 50 x 50 meter persegi,” kata Hary.

Dari data di situs BMKG, pada 29 Juli 2019, terjadi gempa M 4,6 dengan pusat gempa berada di laut 91 km barat daya Nusa Dua, Bali. Gempa yang terjadi pukul 3:23 WIB ini tercatat dirasakan di Kuta, Nusa Dua, Ungasan dan Lombok Tengah.

Menurut Hary, kalaupun masyarakat di Muncar, Banyuwangi merasakan gempa itu, tidak berkaitan dengan munculnya Ikan-ikan tersebut. Sebab ikan-ikan itu baru muncul ke permukaan, diperkirakan pada pukul 09.00 WIB.

“Ikan yang mabuk pun tidak terjadi di sepanjang perairan,” kata dia.

Apakah ikan bisa jadi pertanda gempa dan tsunami?

Isu yang mengaitkan antara ikan yang naik ke permukaan dengan gempa dan tsunami ternyata sudah lama terjadi. Sebelum di Muncar, Banyuwangi, naiknya ikan lemuru di Pantai Batu Bolong, Canggu, Badung, Bali, pada 3 Juli dan 15 Juli juga dikaitkan dengan gempa.

Padahal menurut Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Suko Wardono, di daerah tersebut memang sedang musim ikan lemuru. Karena ikan tersebut, tartarik sama cahaya, akhirnya ikan lemuru tersebut berkerumun mendekati sumber cahaya.

Jauh sebelum ini, Jepang memiliki legenda yang mengaitkan munculnya ikan Oar sebagai tanda gempa besar akan melanda negara itu. Dalam mitologi Jepang, oarfish yang disebut dengan Ryugu no Tsukai, atau “Utusan dari Istana Dewa Laut” dipercaya menjadi peringatan terjadi gempa dan tsunami apabila ikan itu terdampar di pantai Jepang.

Oarfish menarik perhatian setelah gempa bumi dan tsunami di Tohoku, Jepang pada Maret 2011, menewaskan lebih dari 19.000 orang dan menyebabkan kehancuran pada tiga reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Diaiichi. Sebelumnya, ada selusin ikan laut dalam itu yang jarang terlihat, terdampar di Jepang pada akhir 2009 dan 2010.

Seismolog Yoshiaki Orihara bersama rekan-rekannya, dalam penelitiannya di Bulletin Masyarakat Seismologis Amerika, menulis, secara keseluruhan menemukan 336 penampakan ikan laut dalam itu di Jepang antara November 1928 dan Maret 2011.

Tetapi tidak satu pun dari ikan-ikan Oar itu muncul dalam 30 hari setelah gempa bumi dengan kekuatan 7,0 atau lebih besar. Orihara dan rekan-rekannya juga tidak dapat menemukan laporan tentang gempa berkekuatan 6,0 atau lebih besar yang terjadi dalam waktu 10 hari dari pengamatan ikan laut dalam.

Para peneliti Jepang yang meneliti laporan surat kabar, catatan akuarium, dan makalah akademis dari tahun 1928, tidak dapat menemukan korelasi antara penampakan ikan oar dan gempa bumi besar. "Tidak ada seseorang yang bisa mengkonfirmasi hubungan antara dua fenomena," tulis seismolog Yoshiaki Orihara.

Studi lain di tahun 2018 menemukan korelasi antara penampakan ikan oar dan El Niño ketika air di Samudra Pasifik tengah dan timur ekuatorial lebih hangat dari biasanya. El Nino mempengaruhi kedalaman laut yang berbeda dari permukaan, sehingga rumah pelagis ikan Oar berubah menjadi lebih dingin. Pada saat yang sama air permukaan memanas.

Beberapa ilmuwan menduga, kedalaman yang lebih dingin mungkin mendorong ikan oar untuk berenang ke perairan dangkal untuk mengejar plankton.

Hingga saat ini, datangnya gempa dan tsunami belum bisa diprediksi, baik oleh teknologi maupun hewan.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, narasi yang menyebutkan bahwa munculnya ikan ke permukaan sebagai pertanda gempa dan tsunami adalah keliru.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id