[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ada Daging Impor Berbahan Daging Manusia dari China?

Jumat, 12 Juli 2019 19:20 WIB

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ada Daging Impor Berbahan Daging Manusia dari China?

Empat foto olahan daging yang dinarasikan berbahan daging manusia beredar di media sosial. Daging-daging tersebut diklaim impor dari negeri Tiongkok.

Sebuah akun Facebook menyebarkan sejumlah foto terkait daging impor asal China yang diklaim mengandung daging manusia.

Foto-foto itu diunggah oleh akun Hanglar di Facebook pada 25 Juni 2019. Hingga 11 Juli 2019, unggahan itu telah dibagikan ulang hingga 17 ribu kali.

Salah satu foto itu menampakkan dua perempuan berlumur darah yang terbungkus dalam plastik serta olahan daging dalam kemasan merek terkenal yang biasa kita jumpai di pasaran.

Salah satu foto yang diberi tanda khusus oleh Facebook karena dianggap mengaggu.

“Hati-Hati Daging Impor dri China daging yg dia kelola daging manusia. Waspada,” demikian narasi yang ditulis oleh akun Hanglar.

Benarkah yang tampak dalam foto-foto itu adalah daging impor dari Cina yang terbuat dari daging manusia?

PEMERIKSAAN FAKTA

Foto perempuan dalam plastik kemasan

Foto yang menampakkan tubuh dua perempuan, dengan berlumuran cairan merah, dan berbungkus plastik kemasan, bukan bentuk perdagangan daging manusia. Foto itu adalah bagian aksi protes para aktivis yang memperjuangkan hak-hak binatang dari eksploitasi yang dilakukan manusia. Foto ini diambil dari salah situs berbahasa Rusia pada tahun 2014.

Sebagaimana yang tertera dalam plastik kemasan, tertulis, bahwa aksi itu dilakukan oleh aktivis People for the Ethical Treatment of Animals (Peta), yang berjuang untuk penghentian eksploitasi terhadap hewan. Setiap tahun, aktivis-aktivis Peta dari beberapa negara menggelar demonstrasi di jalanan. Tidak jarang, aksi itu berbentuk seperti dalam foto yang beredar: membungkus tubuh manusia dalam plastik kemasan dengan cairan mirip darah, dan menempel tulisan: Daging!

Bentuk-bentuk kampanye mereka yang mirip dengan foto itu bisa disimak di Getty images: https://bit.ly/2GaiRnX.

Foto petugas menyita daging

Foto yang menampakkan tiga petugas memeriksa potongan daging, itu terjadi di China pada 2013. Tapi daging yang diperiksa bukan daging manusia, melainkan daging sapi palsu.

Foto tersebut pernah dipublikasikan situs detik.com pada berita berjudul “20.000 Kg Daging Sapi Palsu Terbuat dari Daging Babi Disita di China” edisi 16 September 2013.

Daging sapi palsu ini adalah daging babi yang telah diberi bahan kimia seperti lilin paraffin dan garam industri agar tampilannya seperti daging sapi. Meski tampilannya mirip, citarasa daging sapi tidak bisa ditiru. Menurut The Daily Meal (14/09/13), daging babi lebih murah dan lebih mudah diproduksi daripada daging sapi.

Berdasarkan informasi dari Want China Times (14/09/13), pabrik tersebut mengolah daging babi di malam hari, lalu menjualnya ke pasar setempat keesokan harinya. Sebanyak 1.500-2.000 kg daging sapi palsu dijual seharga 25-33 yuan (Rp 47.000-61.500) per kg.

Temuan ini mengkhawatirkan karena terdapat komunitas Muslim besar di Xi'an yang bisa jadi tak sengaja mengonsumsi daging haram tersebut.

Foto daging sapi

Foto yang menampakkan daging berwarna merah juga bukan daging manusia. Melainkan daging sapi yang baru keluar dari alat penggilingan. Foto ini pernah dipublikasikan oleh situs CNBC sebagai foto ilustrasi berita berjudul: Antibiotic-Resistant 'Superbugs' Creep Into Nation's Food Supply, edisi 19 April 2013.

Dalam keterangannya, foto itu sendiri karya Daniel Acker dari Bloomberg yang diunggah di Getty Images.

Foto corned beef

Foto corned beef dengan kemasan merek Libbys juga tidak berbahan daging manusia. Foto itu diambil dari situs pemerintah Republik Trinidad and Tobago, di Kepulauan Karibia.

Foto ini melengkapi artikel terkait pengumumam dan Kementerian Pertanian setempat yang melakukan pencabutan atas pembatasan sementara penjualan produk daging dari Brazil.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta tersebut, seluruh foto yang dinarasikan sebagai daging manusia yang diimpor dari China adalah keliru.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id