Belum Ada Bukti, Vaksin Sinopharm Menyebabkan Leukemia dan Diabetes

Kamis, 14 Juli 2022 11:34 WIB

Belum Ada Bukti, Vaksin Sinopharm Menyebabkan Leukemia dan Diabetes

Beredar melalui pesan Telegram, sebuah video yang berisikan dugaan efek lanjutan atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dialami setidaknya 1.000 warga Tiongkok. Ini diklaim terjadi setelah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 buatan Tiongkok.

Video dibuka dengan tulisan China In Focus dan menampilkan Tiffany Meier sebagai pembawa berita. Berita video ini menampilkan wawancara via telepon dengan suami pasien yang disamarkan identitasnya.

Sang suami mengaku istrinya didiagnosa Leukemia Limfoblastik B Akut, sehari setelah mendapatkan suntikan pada tanggal 8 April. Istrinya meninggal satu setengah bulan kemudian.

Dalam berita ini juga disebutkan, 600 anak menderita diabetes setelah vaksinasi.

Video berdurasi 4,4 menit ini berjudul Vaksin Made in China Menyebabkan Kanker, Diabetes diunggah pada 15 Juni 2022. Saat tulisan ini dibuat, video telah ditonton 24,553 kali dan mendapatkan 114 komentar.

Advertising
Advertising

PEMERIKSAAN FAKTA

Sejauh ini, belum ada hasil penilaian medis apakah seribu warga Tiongkok yang diklaim menderita leukemia dan 600 lainnya mengidap diabetes, akibat vaksin Covid-19 produksi perusahaan-perusahaan Cina.

Hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, menemukan bahwa video yang beredar tersebut bersumber dari kanal YouTube NTD Indonesia. Di dalamnya, NTD mengutip sumber dari situs Radio Free Asia tentang seribu warga Tiongkok yang menderita leukemia dan 600 lainnya menderita diabetes setelah divaksin.

Dalam laman Radio Free Asia (RFA) berbahasa Mandarin, artikel soal dugaan vaksin Covid-19 menyebabkan leukemia dimuat pada 2 Juni 2022. RFA menyebut jumlahnya mencapai 500 orang. Tapi RFA tidak menyebutkan spesifik bagaimana data itu diperoleh. Hanya ada keterangan bahwa pasien leukemia di lebih dari 30 provinsi, kota dan daerah otonom termasuk Beijing, Shanghai, dan Jiangsu mengirim dua surat terbuka secara online. Salah satunya dimuat di website jiangyaojia.com.

New Tang Dynasty (NTD) TV adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh praktisi Falun Gong dan dimiliki oleh Epoch Media Group yang juga menjalankan Epoch Times.

Namun organisasi independen dan nirlaba pemeriksa kredibilitas situs, Media Bias Fact Check (MBFC), melabeli NTD TV dengan ‘media dengan kredibilitas rendah’. MBFC menilai pemberitaan NTD TV selama ini sebagai bias kanan karena menggunakan teori konspirasi, propaganda, tidak transparan, dan klaim yang salah.

Tidak ada kaitan antara vaksin Covid-19 dengan kanker darah (leukemia) dan diabetes

Pada September 2021, dilansir dari Tempo, Pemerintah Cina telah memberikan imunisasi vaksin virus corona dua dosis pada 1,072 miliar warganya. Jumlah itu sekitar 75,96 persen dari total warganya. Populasi Cina saat ini sekitar 1,41 miliar jiwa.

Vaksin dari Cina, Sinopharm juga telah divalidasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat, 7 Mei 2021, untuk penggunaan darurat. ABC menulis bahwa ada 30 negara di Asia yang menggunakan Sinovac dan Sinopharm, baik membeli sendiri atau disumbangkan oleh China, yang juga sebagai alat diplomasi mereka.

Para ahli kesehatan di Health Desk, menjelaskan, tidak ada bukti dari uji klinis vaksin COVID-19 atau data tindak lanjut terkontrol yang menghubungkan vaksin COVID-19 yang disetujui WHO dengan peningkatan risiko kanker.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 menghasilkan sel darah putih, kunci peningkat kekebalan yang disebut sel T penolong dan pembunuh, khusus untuk COVID-19. Ini membantu mengatur respons sistem kekebalan dan kemudian membunuh sel yang terinfeksi virus COVID-19.

Sel T memainkan peran besar dalam mempertahankan tubuh terhadap virus dan bakteri, serta penyakit seperti kanker. Vaksin COVID-19 belum terbukti menekan sel T dan tidak ada bukti yang menunjukkan vaksin virus corona melemahkan sistem kekebalan, atau membuat orang lebih rentan terhadap kanker atau penyakit lain seperti penyakit autoimun.

Sebuah penelitian pernah dipublikasikan National Library od Medicine pada Oktober 2021. Penelitian itu dilakukan terhadap 364 pasien kanker di Iran yang menerima vaksin yang menggunakan virus tidak aktif (Sinopharm). Hasil penelitian mengkonfirmasi keamanan dan kemanjuran jangka pendek dari vaksin inaktif pada pasien.

Situs kesehatan Healthline juga melaporkan bahwa efek samping vaksin Covid-19 tidak spesifik terkait dengan diabetes. Efek samping umum dari vaksin Covid yakni nyeri, bengkak, dan kemerahan di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, panas dingin, demam, mual dan nyeri otot.

Sejauh ini vaksin dan booster Covid-19 dianggap aman. Para ahli justru mendorong penderita diabetes mendapatkan vaksinasi karena infeksi SARS-Covs-2 menyebabkan risiko penyakit parah yang lebih tinggi. Dari hasil penelitian juga menunjukkan, vaksin Covid-19 tidak mempengaruhi kadar glukosa. Beberapa orang yang hidup dengan diabetes melaporkan perubahan minimal pada gula darah mereka.

Akan tetapi jika ada kekhawatiran terhadap diabetes, seseorang diharapkan berkonsultasi kepada dokter terkait manajemen diabetes dan vaksinasi COVID-19.

KESIMPULAN

Berdasarkan verifikasi Tim Cek Fakta Tempo terhadap video berjudul Vaksin Made in China Menyebabkan Kanker dan diabetes dapat disimpulkan Belum Ada Bukti.

Belum ada hasil penilaian medis terhadap seribu warga Tiongkok yang diklaim menderita leukimia atau kanker darah, serta 600 lainnya mengidap diabetes, disebabkan oleh vaksin Covid-19 dari perusahaan-perusahaan vaksin di Cina.

Artikel ini telah mengalami pemutakhiran pada 1 Agustus 2022.

Pada 29 Juli 2022, Tim NTD Indonesia mengirimkan keberatan atas artikel cek fakta ini. Menurut Tim NTD, isi peristiwa tersebut berdasarkan kejadian yang terjadi di Tiongkok pada 15 Juni 2022. NTD melakukan wawancara dan memverifikasi dari orang-orang yang terkena dampak langsung. Tim NTD menyampaikan bahwa mereka telah memenuhi kaidah jurnalistik, dengan kesimpulan vaksin Sinopharm bisa menyebabkan Leukimia dan Diabetes.

Tempo mengakui ada kekeliruan pada bagian judul dan kesimpulan yang seharusnya “Belum Ada Bukti” sesuai label yang tertera di atasnya, namun sebelumnya tertulis “Tidak Terbukti”. Dalam artikel ini Tempo telah mengkoreksi kesimpulan menjadi Belum Ada Bukti. Kami menyampaikan maaf atas kekeliruan tersebut.

Kesimpulan “Belum Ada Bukti” berdasarkan hasil verifikasi tim cek fakta Tempo, bahwa hingga artikel diturunkan belum ada hasil penilaian medis maupun penelitian ilmiah yang mengkonfirmasi 1000 warga Tiongkok menderita leukimia serta 600 lainnya mengidap diabetes karena vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan-perusahaan Cina. Badan Kesehatan Dunia, WHO, juga tidak memasukkan diabetes dan leukimia sebagai efek samping pada vaksin-vaksin dari perusahaan Cina.

Tempo akan memperbarui artikel ini, jika telah ada bukti-bukti medis dan ilmiah yang diterbitkan lembaga otoritas maupun organisasi kesehatan kredibel lainnya.