Keliru, Daya Rusak Vaksin dapat Dinetralisir dengan Garam Laut dan Air Kelapa Muda

Selasa, 25 Januari 2022 17:36 WIB

Keliru, Daya Rusak Vaksin dapat Dinetralisir dengan Garam Laut dan Air Kelapa Muda

Pesan berantai berisi narasi cara menghilangkan vaksin yang sudah dimasukkan ke dalam tubuh, diterima Tempo melalui Whatsapp, Januari 2022.

Narasi itu memuat sejumlah klaim. Pertama, vaksin sebagai senjata biologi yang dapat merusak gen, pengentalan darah, melumpuhkan sel otak dan mematikan. Klaim kedua, berisi informasi cara menghilangkan vaksin dalam tubuh dengan garam laut dan air kelapa.

“Alhamdulilah sekarang ada penangkal/penetralisir daya rusak vaksin itu. Ini ramuannya, garam laut dan air kelapa muda, tapi bukan garam krosok (karungan). ½ sendok makan garam dan segelas air kelapa muda,” tulis pesan berantai itu.

Benarkah klaim-klaim tersebut?

Tangkapan layar pesan berantai dengan klaim Daya Rusak Vaksin dapat Dinetralisir dengan Garam Laut dan Air Kelapa Muda

Advertising
Advertising

PEMERIKSAAN FAKTA

Meminum air kelapa untuk menetralisir atau menangkal vaksin Covid-19 telah beredar sejak tahun lalu. Dikutip Tempo dari Antara, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Dr. dr. Safrizal Rahman MKes SpOT menyatakan fenomena masyarakat yang meminum air kelapa muda usai menerima suntikan vaksin COVID-19 untuk menetralisir efek vaksinasi merupakan sesuatu yang tidak rasional.

“Vaksin disuntikkan dalam otot dan air kelapa masuk dalam saluran cerna, jadi butuh waktu sekian lama untuk bertemu dalam sistem tubuh, jadi nggak ada hubungannya itu,” jelas Safrizal.

Sejumlah informasi tentang cara untuk menghilangkan vaksin dalam tubuh juga beredar secara global sejak tahun lalu. Mulai dengan mandi borax, bekam, dan kini dengan meminum campuran garam laut dengan air kelapa muda.

Dikutip dari situs kesehatan Health Line, vaksin yang telah disuntikkan ke dalam tubuh tidak bisa dihilangkan. “Vaksin, seperti vaksin untuk COVID-19, masuk ke dalam tubuh dan mulai bekerja dengan cepat,” kata Jason Gallagher, Profesor Klinis Penyakit Menular di Temple University di Philadelphia.

Menurut Gallagher, setelah vaksin mRNA masuk ke dalam sel di area injeksi, tubuh bereaksi dengan memproduksi bahan untuk melawan sel Covid-19. "Itu terjadi di sana (sel), dan itu terjadi dengan cepat."

Robert G. Lahita, Direktur Institut Penyakit Autoimun dan Rematik di Saint Joseph Health di New Jersey dan penulis buku “Immunity Strong“, setuju.

“Setelah diberikan, [vaksin] bersifat permanen, segera, dan tidak dapat diubah,” katanya kepada Healthline.

Selain itu, para ahli mengatakan, vaksin tersebut efektif dalam mengurangi risiko tertular virus corona atau, jika orang yang divaksinasi mengembangkan COVID-19, vaksin tersebut efektif dalam menjaga gejala agar lebih mudah dikendalikan.

“Dapatkan saja vaksinnya,” kata Lahita. “Kamu tidak akan berakhir pergi ke rumah sakit atau sekarat. Itulah tujuannya.”

Sementara itu menurut Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardyanto, semakin lama, teknologi vaksin semakin baik. Akhir 1990-an dan awal 2000an, kita pernah ribut soal Thimerosal. Tapi itu sudah lama ditinggalkan dalam teknologi vaksin hari ini.

Sedangkan aluminium adalah sebagai adjuvan, sudah lama digunakan dalam banyak vaksin. termasuk untuk vaksin-vaksin bagi bayi dan anak-anak. Ini jangan dibayangkan seperti aluminium dalam bayangan kita. Ini adalah aluminium sebagai larutan garam.

Vaksin utk bayi dan anak-anak, sudah lama digunakan. Teknologi yang digunakan saat ini, tidak lebih berisiko kalau tidak ingin dikatakan lebih kecil daripada yg utk bayi dan anak-anak tsb.

“Nah, kalau utk bayi dan anak-anak saja sudah kita jalankan selama ini, bisa kita lihat bagaimana efeknya dalam jangka sekian tahun kemudian setelah ana-anak itu remaja dan dewasa,” kata dia kepada Tempo, Selasa 25 Januari 2022.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa vaksin bisa dinetralisir atau dihilangkan dengan meminum garam dicampur air kelapa muda adalah keliru. Vaksin yang telah diinjeksi ke dalam tubuh seseorang bersifat permanen dan bekerja di dalam sel tubuh secara cepat. Klaim vaksin sebagai senjata biologi juga keliru.

Tim Cek Fakta Tempo