[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tidak Adanya Klaster Demo Tunjukkan Covid-19 adalah Konspirasi?

Rabu, 28 Oktober 2020 14:34 WIB

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tidak Adanya Klaster Demo Tunjukkan Covid-19 adalah Konspirasi?

Klaim bahwa jumlah kasus Covid-19 di DKI Jakarta justru menurun pasca demonstrasi beredar di Facebook. Beberapa waktu yang lalu, memang digelar sejumlah unjuk rasa yang menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di ibukota. Menurut klaim ini, turunnya jumlah kasus itu mematahkan kecemasan soal munculnya klaster demo, dan menunjukkan bahwa Covid-19 hanya konspirasi.

Akun yang membagikan klaim tersebut adalah akun Arba, tepatnya pada 24 Oktober 2020. Dalam unggahannya, akun ini membagikan gambar tangkapan layar cuitan akun Twitter @OposisiCerdas yang berbunyi, "Patahkan Kecemasan Klaster Baru, Covid-19 Jakarta Justru Menurun Pasca Unjuk Rasa."

Kemudian, akun tersebut menulis, "Semakin Nyata.. CORONA Cuma Konspirasi ..Dan Hanya Alasan Untuk Bancakan Duit Rakyat.. Apa Kabar 900 Triliun Dana Corona..? Bahkan BPK Pun Tak Boleh Audit.." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah mendapatkan lebih dari 700 reaksi dan dibagikan lebih dari 450 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Arba.

Apa benar tidak adanya klaster demo menunjukkan bahwa Covid-19 adalah konspirasi?

Advertising
Advertising

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, tidak adanya lonjakan jumlah kasus Covid-19 pasca demonstrasi Omnibus Law UU Cipta Kerja bukan berarti Covid-19 hanyalah konspirasi. World0meters mencatat SARS-CoV-2, virus Corona baru penyebab Covid-19, telah menginfeksi lebih dari 43 juta orang di seluruh dunia hingga 27 Oktober 2020. Sementara jumlah kasus Covid-19 di Indonesia telah mencapai 396.454 kasus dengan 13.512 kematian.

Laporan John Hopkins University pun menyebut jumlah kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 1.118.635 kematian. Angka ini lebih tinggi dibandingkan jumlah kematian karena flu di seluruh dunia, yang menurut WHO, diperkirakan sekitar 290 ribu-650 ribu orang setiap tahun.

Lonjakan jumlah kasus Covid-19 di Jakarta tidak terjadi sepanjang Oktober 2020 karena banyak faktor, seperti penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II serta jumlah tes dan tracing yang belum maksimal. Di sisi lain, unjuk rasa di tempat terbuka dan pesertanya disiplin menggunakan masker berpeluang memiliki risiko penularan yang lebih rendah.

Demonstrasi dan jumlah kasus Covid-19 di Jakarta

Untuk memeriksa klaim dalam unggahan akun Arba, Tim CekFakta Tempo menggunakan dua metode, yakni mewawancarai ahli biologi molekuler lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat, Ahmad Rusdan Utomo serta menelusuri penjelasan dari sejumlah ahli kesehatan yang menganalisa aksi demonstrasi Black Live Matters di AS yang dianggap tidak signifikan menyumbang lonjakan kasus Covid-19.

Pada awal Oktober 2020, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi memperkirakan Indonesia akan mencatatkan lonjakan masif jumlah kasus Covid-19 dalam 1-2 pekan. Penyebabnya, klaster penularan baru lewat rangkaian demonstrasi besar di berbagai daerah yang dipicu oleh pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Namun, menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, seperti dikutip dari Kompas.com pada 26 Oktober 2020, tidak terdapat peningkatan kasus yang signifikan selama perpanjangan PSBB transisi sejak 12 Oktober. Rata-rata persentase kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir adalah 9,9 persen dengan rasio tes 5,8 per 1.000 penduduk. Angka keterisian tempat tidur isolasi di 98 rumah sakit rujukan dalam dua pekan terakhir juga menurun.

Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan belum adanya lonjakan jumlah kasus Covid-19 di Jakarta bisa disebabkan oleh kombinasi dari dua faktor utama. Pertama, penerapan PSBB jilid II pada 14 September-11 Oktober 2020 dan PSBB transisi pada 12-25 Oktober 2020. Kedua, jumlah tes dan tracing di Jakarta masih kalah dibandingkan dengan New York misalnya yang punya standar tracing minimal 30 orang.

Selain itu, belum adanya laporan yang menunjukkan lonjakan kasus Covid-19 yang disumbang oleh demonstran bisa disebabkan oleh beberapa hal. Dari aspek lingkungan, kerumunan yang berada di ruangan terbuka memiliki risiko penularan yang lebih rendah, karena sirkulasi udara lebih baik, meski tetap ada peluang terjadinya penularan apabila tidak disertai dengan penerapan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Menurut Ahmad, risiko lebih tinggi justru ada di dalam rumah dan perkantoran, karena berada di ruangan tertutup dalam jangka waktu yang lama, apalagi jika sirkulasi udaranya yang buruk. “Karena itu, klaster keluarga dan perkantoran lebih banyak muncul,” kata Ahmad pada 27 Oktober 2020.

Dari aspek manusia, dalam hal ini demonstran, didominasi oleh kelompok usia muda yang secara umum kondisi kesehatannya lebih baik, meskipun ada sejumlah pasien Covid-19 yang berusia muda dengan gejala berat. Namun, Ahmad mengingatkan kelompok usia muda tetap berisiko menjadi orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menularkan Covid-19 ke orang tua di rumah yang lebih rentan terinfeksi karena faktor usia atau memiliki penyakit penyerta. Sehingga, menurut Ahmad, demo justru berpeluang menambah kasus dari klaster keluarga.

Demonstrasi Black Lives Matter

Perdebatan yang sama pernah terjadi di AS mengenai apakah demo Black Lives Matter pada Mei-Juni 2020 memainkan peran penting dalam penyebaran Covid-19. Para politikus menyalahkan demonstran karena diagnosis Covid-19 meningkat sebulan pasca aksi, mencapai level tertinggi sejauh ini. Namun, beberapa ahli menyebut kontribusi aksi Black Lives Matter terhadap penyebaran Covid-19 tidak signifikan, walaupun ini bukan berarti mereka mengabaikan risiko demo di tengah pandemi.

Dikutip dari Vox, menurut data awal yang dilaporkan oleh Wall Street Journal dan BuzzFeed, tidak ditemukan peningkatan kasus Covid-19 di kota-kota di AS yang menggelar demo besar. Bahkan, kertas kerja yang diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) menemukan "tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tren (Covid-19) setelah demonstrasi antara negara-negara yang menggelar unjuk rasa dan yang tidak".

Menurut ahli kesehatan, peningkatan kasus Covid-19 di AS lebih disebabkan oleh pelonggaran pembatasan di beberapa negara, sehingga memungkinkan adanya pertemuan dalam ruangan, seperti bar, restoran, tempat pangkas rambut, dan tempat kerja, di mana virus Corona penyebab Covid-19 lebih mungkin menyebar.

Sejauh ini, unjuk rasa Black Lives Matter tidak menjadi sumber utama peningkatan kasus Covid-19. Alasannya, disiplin dalam penggunaan masker dan jaga jarak, usia demonstran yang relatif masih muda, jumlah demonstran yang kecil dibandingkan populasi, serta faktor keberuntungan.

Dilansir dari The Guardian, Direktur Institute Kesehatan Global Harvard Ashish Jha memperkuat alasan tersebut. Menurut Jha, peserta aksi Black Lives Matter telah melakukan mitigasi dengan tetap menggunakan masker yang secara substansial dapat menurunkan risiko penyebaran dan keparahan penyakit.

Selain itu, hasil penelitian menyebut aktivitas di luar ruangan jauh lebih aman daripada aktivitas di dalam ruangan. Hal ini diperkuat dengan semakin banyaknya bukti yang menunjukkan sebagian besar infeksi terjadi di dalam ruangan. Selain itu, terdapat bukti awal bahwa mereka yang berada dalam kerumunan dan bergerak (rally) risiko penularannya lebih rendah dibandingkan di dalam massa yang tidak bergerak.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa "tidak adanya klaster demo menunjukkan bahwa Covid-19 adalah konspirasi" keliru. Terdapat sejumlah kemungkinan mengapa unjuk rasa Omnibus Law UU Cipta Kerja tidak berkontribusi terhadap lonjakan jumlah kasus Covid-19, sebagaimana yang juga terjadi dalam aksi Black Lives Matter di AS pada Mei-Juni 2020. Covid-19 pun bukan konspirasi. Penyakit ini telah menginfeksi lebih dari 43 juta orang di dunia dengan lebih dari 1 juta kematian.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id